The Way Of Life

All about my interest

Sehari Yg Menginsafkan

Assalamua’laikum warohmatullahi wabarokatuh.

    Alhamdulillah wa syukurlillah, pada yg Maha Kaya, Maha Rahman, Maha Rahim, Yang memiliki dan menguasai Cinta, Allah Jalla wa ‘ala.  Sekiranya manusia berkumpul untuk memuliakan Allah  nescaya kemuliaan Allah tidak akan meningkat barang sedikitpun, juga sekiranya manusia berkumpul untuk menghinakan Allah (nau’zubillah) maka sesungguhnya Allah tidak akan terhina walau sedikitpun, sesungguhnya kita yg menjadi hamba inilah yg bergantung harap kemurahan dan kasih sayang Nya.
    Sholawat dan salam ke atas junjungan besar Nabi Muhammad s.a.w, Nabi tercinta, qudwah wa uswah, habibullah semoga kita mendapat syafaat daripada Baginda di akhirat kelak (amiin). Sholawat dan salam juga semoga tercurahkan kepada keluarga ahlil bait Baginda, sahabat wa sahabiah, tabi’ien, athba at tabiien, para syuhada, para salaf yg soleh, juga kepada mana2 individu dan orrganisasi yg berazam dan beriltizam utk tetap teguh untuk memegang tali Allah dengan gigi geraham mereka, teguh memegang sunnah yg diumpamakan spt bara api pd aman ini, semoga kita tergolong dalam golongan tersebut (Amiin).

    Alhamdulillah, sudah agak lama ana tidak menulis di sini, erm…diri yg dhoif ini sedikit sibuk dengan tugas2 yg diamanahkan oleh Allah SWT untuk diselesaikan. Namun hamba ini bersyukur pada yg Maha Pengasih dan Penyayang, kerana masih lagi berpeluang untuk menerima cinta daripada Nya. Sesungguhnya kemuliaan seseorang hamba abdi adalah bagaimana tuannya memberikan perhatian kepadanya. "Ya Allah aku hamba yg tiada daya sedikitpun tanpa bantuan daripada Mu yg memiliki langit dan bumi ".

    Apa khabar ikhwah wal akhowat sekalian, harapan ana semoga iman antum/antunna sentiasa kukuh, mantap, dan cekal dalam mengharungi hari2 yg penuh dengan cabaran yg mana cabaran dan cobaan itu tidak lain adalah tanda kasih dan cinta Allah kepada kita jua adanya.

    Sahabat wa sahabiah yg ana cintai sekalian, pernahkah antum membaca akan kisah Maryam ? Ya…Maryam, ibunda Nabi Isa alaihissalam. Wanita yg suci, solehah, dan pelbagai kebaikan terkumpul padanya, orang yg dekat dengan Allah Jalla wa ‘ala.   Baru2 ini ana berpeluang menonton kisah tentang Maryam ini, ada ikhwah daripada Sabah (Jazakallah ana ucapkan pada akhi Ucop Gorbachov) yg sudi memberikan ana video cerita Maryam dalam bahasa Arab (ada translation English).

    Ikhwah wa akhowat fillah sekalian, kisah yg sangat menyentuh hati, bagaimana Allah menguji Maryam dan Nabi Allah Zakaria, mereka yg dekat dengan Nya dengan pelbagai cobaan, dan cobaan yg paling berat adalah khabar akan kelahiran Nabi Isa alaihissalam.

    Nabi Zakaria alaihissalam, begitu tekun dan sabar dalam menyeru kaumnya untuk menyucikan tauhid hanya kepada Allah, mematuhi segala suruhan dan menjauhi segala larangan Allah. Pun begitu kaumnya iaitu Bani Israel tidak juga beriman kepada apa yg diserukan oleh Nabi Allah tersebut kecuali sedikit daripada mereka. Bagaimana pada suatu masa sehingga Nabi Allah Zakaria direjam batu oleh kaumnya yg menuduh Baginda sebagai pendusta, bagaimana pengikut Nabi Allah Zakaria dibunuh oleh pengikut-pengikut rahib2 Yahudi yg menyembah hawa nafsu mereka. Namun bagaiman kekaguman ana Nabi Allah Zakaria ttap sabar dan tsabat dalam menyampaikan risalah Allah yg mulia, sesungguhnya kemuliaan itu bukan datang daripada manusia, melaikan datang juga daripada Allah yg Maha memiliki Kemuliaan.

     Bagaimana Maryam yg difitnah kaumnya karena melahirkan Nabi Isa alaihissalam. Saat melahirkan Nabi Isa, tergambar kepayahan dan kesukaran pada wajah Maryam akan cubaan Allah padanya. Selepas melahirkan, bagaimana Allah menunjukkan rahmat, kasih sayang dan perhatiannya kepada Maryam perempuan yg suci dengan memberikan minuman daripada mata air yg terbit di bawah telapak kakinya, memberinya makan rotab (kurma yg mekar) drp batang kurma mati tempat dia bersandar. Apabila Maryam sampai kepada kaumnya, bagaimana Allah memerintahkan agar Maryam yg mulia supaya berdiam diri dan Allah akan membelanya dengan perkataan anaknya.

    Dan sesungguhnya bantuan Allah itu dekat, bagaimana Allah membela Maryam yg Mulia dengan kata2 daripada Isa alaihissalam, dan pada ketika itu terkejutlah para peentang agama Allah, porak perandalah pakatan mereka karena digoncang oleh rancangan Allah..

    Ikhwah fillah sekalian, sesungguhnya cobaan, cabaran, goncangan yg dihadapi oleh orang yg bergelumang dengan da’wah adalah sunnatullah. Ia adalah sunnatullah. Karena apa? Karena sejarah telah membuktikannnya. Bukankah ada suatu ketika ketika Khabbab bin al-Arats datang kepada Rasulullah yg ketika itu berada di bawah bayang Baitullah agar Rasulullah berdoa agar Allah mencabut kesusahan dan kepayahan mereka yg diseksa dan dizalimi oleh orang musyrikin. Maka apa kata Rasul ? "Sesungguhnya kamu tidak sabar, tahukah kamu bagaimana cobaan yg dihadapi oleh orang yg sebelum kamu? Mereka ada yg dibakar, ada yg diseksa dengan sikat besi sehingga daging mereka koyak namun mereka tetap teguh pada jalan Allah……"
Bukankah Allah telah memberi peringatan kepada kita akan hal itu?

"Apakah manusia mengira mereka akan dibiarkan hanya dgn mengatakan "Kami telah beriman ", dan mereka tidak diuji?" Dan sungguh Allah telah menguji orang2 sebelum mereka, maka Allah pasti mengetahui orang2 yg benar dan pasti mengetahui orang2 yg dusta" (al-Ankabuut (29) :2-3)

       

Washollallahu a’la sayyidina Muhammad wa a’la ali Muhammad,
Wallahu a’lam.

HAMBA KEPADA ALLAH, KULI KEPADA DA’WAH
Amaat

Hidup Yang Tidak Selalu Cerah….

Bismillahirrahman arrahim,

Segala puji bagi Allah penguasa seluruh alam. DitanganNyalah segala sesuatu dan kepadaNyalah kembali sekalian makhluknya.

hidup kita tidak akan selalunya diiringi tawa dan gembira, kerana Allah telah menjadikan pasangan bagi tawa iaitu tangis dan pasangan bagi genbira adalah duka.

Beberapa ketika sahabat ana kehilangan motorsikalnya yang amat diperlukannya dalam menjalankan urusan da’wah. Seluruh ikhwah berduka di atas musibah yang menimpanya. Namun ana kagumi kesabaran saudara ana ini yang redha dengan kejadian yang menimpanya. Bahkan dia tidakpun merasa kehilangan motornya itu akan merencatkan tugasan da’wah yang diberikan kepadanya. Ana sungguh tersentuh dengan ketabahan dan kecekalan hati saudara ana ini. Ana sangat-sangat tersentuh…. Semoga Allah menggantikan sesuatu yang lebih baik kepada mu yaa Ibnu Saidin dan semoga Allah melimpahkan barokahnya kepada mu sehingga ke akhirnya…

Wassalamua’laikum

Kita Diuji pada Titik Terlemah

Saya mempunyai seorang teman yang istimewa. Keistimewaannya bukan pada penampilan fiZikal yang menawan atau karier yang menjulang, namun pada kemampuannya memahami hikmah daripada perbagai peristiwa yang dialaminya. Sepintas, kisah hidupnya terlihat tak berbeza dengan manusia lain pada umumnya, namun Allah SWT memberikan kurnia kecerdasan mata hati padanya untuk dapat mengambil pelajaran yang boleh mencerahkan dirinya maupun rakan-rakan yang dia ceritakan.

Kisah hidupnya kali ini juga demikian. Suatu pagi dia pergi ke sebuah kedai untuk membeli roti dan susu bagi kedua anaknya. Letak kedainya agak jauh dari rumah, sehingga perlu waktu sekitar 15 minit berjalan kaki. Dia menyusuri sepanjang jalan setapak yang masih sepi sambil merenung. Terngiang kembali ingatannya pada taushiyah Ustadz di pengajian akhir minggu lalu:

"Manusia hidup di dunia ini tak terlepas daripada ujian Allah SWT yang menciptakannya. Karakteristik ujian itu, kita diuji justru pada titik terlemah. Waktu atau keadaan kita lemah sebenarnya adalah saat-saat di mana kita memerlukan atau mencintai sesuatu tetapi apa yang diperlukan atau dicintai itu sedang tidak dimiliki atau kurang dari yang diperlukan, sehingga kita tergerak untuk mengusahakannya. Pada saat itulah justru Allah menguji kita apakah kita percaya penuh dan berserah diri kepada-Nya atau melakukan sesuatu yang tidak diridhai-Nya."

"Contohnya pada kisah Nabi Ibrahim as. Beliau sangat menyayangi puteranya Ismail as. Tapi Allah SWT malah menyuruh beliau untuk menyembelihnya (QS Ash Shaaffaat 37: 100 – 111)."

"Kemudian dalam Perang Ahzab di mana pasukan muslim yang dipimpin Rasulullah SAW dikepung dari segala penjuru oleh tentara sekutu kaum kafir. Namun Allah SWT justru menguji para muslimin itu dengan udara yang sangat dingin dan kekurangan makanan (QS al-Ahzab 33: 9-25)."

Merasa tergugah dengan taushiyah itu, teman saya lalu mencuba untuk ber-muhasabah di mana letaknya titik terlemah pada dirinya, sehingga Allah SWT akan mengujinya. "Entahlah. Tapi yang jelas saat ini saya sedang memerlukan biaya yang cukup besar. Anak saya yang bongsu akan masuk sekolah rendah pada bulan depan. Tentunya saya perlu membayar yuran, wang pakaian seragam, wang buku…" Pikirannya lantas terhanyut pada berbagai perancangan yang akan dilakukannya untuk memenuhi keperluan itu.

Tiba-tiba sorot matanya tertumpu pada sesuatu yang tergeletak di jalanan. Perhatiannya seketika mengamati. Benda itu berupa selembar kertas, agak kusam. Mungkin habis terinjak sepatu orang yang lalu lalang di situ. Tanpa sedar dipungutnya kertas lusuh itu. Masya Allah, matanya terbelalak tak percaya. Kertas itu adalah wang seratus ribu rupiah. Ia termenung sejenak, dan dalam hitungan detik, wang itu sudah dibersihkannya daripada debu dan berada dalam saku bajunya. Hatinya mekar, berasa mendapat durian runtuh. Setengah bersenandung, ia berbinar-binar meneruskan perjalanan ke kedai dan tak ingat lagi pada apa yang direnungkannya seminit yang lalu.

Namun sewaktu ingin membayar pembelian roti dan susu di kaunter kedai, tiba-tiba hatinya berbalik menjadi gelisah, "Wang yang ku temui ini halal atau haram ya?" Apakah ini yang dimaksudkan dalam QS Ath-Thalaaq 65: 3, “Wa yarzuqhu min haitsu laa yahtasibu”, bahwa Allah dapat mendatangkan rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka. Mungkin Allah berkenan memberikan sebagian rezki-Nya.

Tapi, mengapa hatinya tak kunjung berasa tenang. Fikirannya terus berkecamuk, “Bagaimana kalau pemilik wang itu kembali ke tempat itu dan mencari wangnya yang jatuh? Bagaimana kalau wang itu akan dibelanjakan untuk membeli roti dan susu bagi anak-anaknya? Atau jika wang itu merupakan hasil jerih payahnya selama sebulan penuh dan tidak ada penghasilan lainnya?”

Akhirnya ia menyerahkan wang miliknya sendiri ke kaunter dan keluar dari kedai dengan hati yang bergulat hebat. Keringatnya mengucur membasahi bajunya. Ia mencuba untuk mengingat-ingat ayat Al-Qur’an atau Hadits, mungkin ada yang boleh dijadikan petunjuk baginya untuk mengambil keputusan dengan tepat. Menurutnya, apapun keputusannya, yang paling penting adalah mendapat ridha Allah SWT.

Alhamdulillah, akhirnya ia mendapat petunjuk berupa sebuah Hadits Rasulullah dari An-Nawas bin Sam’an ra.: “Kebaikan itu adalah akhlak yang baik dan dosa adalah apa-apa yang meragukan jiwamu dan engkau tidak suka dilihat orang lain dalam melakukan hal itu."

Ya Allah, ternyata jiwanya yang ragu-ragu dan gelisah adalah cerminan dari perbuatan dosa yang telah ia lakukan. Jadi, jelas wang temuan itu hukumnya haram jika ia manfaatkan untuk kepentingan pribadinya, tanpa berusaha untuk mencari pemiliknya terlebih dahulu. Ingatannya kembali pada renungannya pagi tadi. “Kita diuji oleh Allah SWT justru pada titik terlemah. Astaghfirullah. Rupanya, titik terlemah saya saat ini adalah yang berkaitan dengan wang."

Keputusannya kini telah bulat. Prinsipnya, wang itu harus segera dikembalikan pada pemiliknya. Tapi bagaimana ia tahu siapa pemiliknya? Sepertinya hanya Allah Yang Maha Melihat saja yang tahu. Akhirnya, tanpa banyak fikir lagi, dia bergegas ke tempat ditemukannya wang tersebut. Diletakkannya kembali lembaran kertas berharga itu di tempat asalnya sambil berdoa, "Ya Allah, jika Engkau ridhai, hamba mohon kembalikan wang ini pada pemiliknya. Atau mungkin Engkau punya kebijaksanaan untuk menguji hamba-Mu yang lain,"

Teman saya itu kemudian memandangi wang itu dari kejauhan. Hatinya kini sudah sangat tenang dan lega. Alhamdulillah. Hampir saja ia tergelincir pada perbuatan dosa. Nyaris ia gagal dalam menempuh ujian yang diberikan oleh Allah SWT.

Tapi satu pelajaran berharga telah berhasil dipetiknya hari ini: "Kita diuji oleh Allah SWT justru pada titik terlemah yang kita miliki,"

Wallahu a’lam bisshowwab

DA’WAH DENGAN CINTA

Dakwah dengan Cinta
sumber : abu suwailih/aldakwah.org

Assalaamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakaatuh, kesejahteraan, rahmat dan berkah Allah semoga tercurahkan atasmu. Assalaamu ‘alaikum, setiap orang mengucapkannya sebagai tradisi, tapi kita melafadzkannya sebagai ibadah pada Illahi, kita ucapkan penuh dengan getaran makna cinta kasih yang agung. Atasmu, yang kucintai di jalan Allah, kesejahteraan, rahmat dan berkah-Nya.

Yah, sepertinya diriku diatas mimbar sholat dalam suatu kesyahduan doa yang tulus mengusung cinta dan kasih, seraya kulafadzkan untukmu sedangkan aku berada dalam puncak keikhlasan dan kejujuran…assalaamu ‘alaik, kesejahteraan, rahmat dan berkah Allah tercurah atasmu. Doa yang sempurna kupersembahkan untukmu dari haribaan Yang Maha Suci nan Agung, doa dari segumpal darah yang mencintaimu jauh di lintas ruang dan waktu, tanpa melihatmu. Ku ingin mencintai semua orang yang kucandra dengan hatiku.

Kenapa? Karena hati adalah gudang gulungan rahmat, cinta sekaligus rasa malu. Ialah yang menjadikan orang memiliki keistimewaan dalam kebajikan, kebenaran, dzauq (rasa), keindahan, dan rasa malu. Barangkali inilah taushiyahku yang pertama untukmu; mari kita jadikan diri kita pewadagan untuk kebajikan, kebenaran, dzauq, keindahan, dan rasa malu. Malu memiliki kekuatan kendali yang dahsyat pada hati, sedangkan keindahan memiliki kekuatan kendali yang dahsyat pada akal. Keindahan termaksud adalah kecerahan jiwa yang menjelma dalam pancaran muka, "simahum fi wujuhihim min atsaris sujud", simat-simat (tanda-tanda) mereka tampak pada muka mereka dari atsar sujud.

Bila kau saksikan pemilik jiwa yang demikian, cintanya akan membimbingmu menuju rambu-rambu kebenaran dan cahaya, nuruhum yas’a baina aidihim wa bi aimanihim, cahaya mereka memancar di depan dan kanan mereka, adzilatin ‘alal mukminina a’izatin ‘alal kafirin, mereka bersikap lemah lembut terhadap orang-orang mu’min dan bersikap keras terhadap oarang-orang kafir. Inilah keindahan hakiki itu.

Sedangkan malu, ialah keindahan yang hidup, yang besinar dan berbicara, yang menarik hati dan jiwa, bahkan menundukkannya. Sungguh benar sabda Rasulullah ?; al hayau khairun kulluhu, malu itu semuanya baik. Likulli dinin lahu khuluqun wa khuluqu hadzad din al hayau, setiap agama memiliki moral, sedangkan moral dien ini adalah rasa malu.

Orang yang di beri kebaikan (jiwa) seperti ini adalah orang yang memiliki kemuliaan dan yang dapat diharapkan. Dan mereka yang memiliki potensi seperti itu musti menjadi pelita dan dai-dai penyeru dengan apa yang telah Allah anugerahkan padanya berupa kemuliaan akhlaq, berdiri tegap di garis terdepan di jalan ar-Rahman, menyeru dengan kalimat Allah; wa anna hadza shirathiy mustaqima, fattabi’uhu wala tattabi’us subula fatafaraqa bikum ‘an sabilih, inilah jalanku yang lurus; maka ikutilah ia dan janganlah kalian ikuti jalan-jalan (yang llain), karena jalan-jalan itu mencerai beraikan kalian dari jalan-Nya.

Saudaraku;
Dunia ini butuh hati, ‘awathif (kelembutan jiwa) dan masya’ir (sensitifitas rasa); maka jadilah hati untuk alam ini, hidupkan dengan ‘awathif dan masya’irmu. Sesungguhnya manusia yang hidup tanpa hati, ‘awathif dan masya’ir, walaupun kadang ia memiliki falsafah, teori dan pengalaman, tetapi manusia tidaklah disebut manusia kecuali memiliki unsur-unsur kejiwaan dan ruh yang demikian itu. Kerena kalau tidak demikian, maka manusia robot dan komputer sudah cukup menggatikan fungsi tugas manusia.

Manusia itu ya ruh, hati juga ‘awathif. Bila kunyatakan ‘athifah untuk suatu pujian bukan berarti ‘athifah yang mutlak tanpa kendali (pengikat) dan batas, karena sesungguhnya ‘athifah adalah suatu denyut, kebangunan dan kehidupan, yang terikat oleh ushul-ushul syara’. Oleh sebab itu siapa yang berinteraksi dengan ‘awathif jahiliyah tidak akan berdiri kokoh dengan ‘awathif yang bersih nan ‘afifah, mampu menjaga diri dari segala ketidak patutan. Itulah rahasia hidup muslim, rahasia kewujudan rohani.

Hakikat inilah yang pernah di candra al imam Hasan Albana lewat ungkapan beliau; wahai ikhwan, kendalikan semangat ‘awathifmu dengan ketajaman akalmu, dan sinarilah teori akalmu dengan kedalaman ‘awathifmu.

Sesungguhnya ‘awathif (baca: gejolak jiwa) seorang akh/ukh muslim sejati musti terikat, bahkan terlindung dalam benteng taqwallah Yang Maha Agung. Tidak mungkin kita mengurungnya atau memasabodohi bahkan membunuhnya, karena ia adalah fitrah. Tetapi Islam yang agung datang membuka untuknya jendela-jendela kesucian, ‘ifah dan kejernihan. Dari jendela-jendela itu yang teragung adalah ungkapan; inniy uhibbuka fillahi ta’ala. ‘Athifah ukhuwah dan cinta adalah bekal teragung dalam menghadapi thoghut-thoghut materi. Ialah suplai makanan bagi kelaparan akan kelembutan jiwa yang sebagian besar tercurah dari dalam hati.

“Dalam banyak kesempatan aku mencium anak-anakku ketika mereka dalam masa susuan, dan aku lebih cenderung untuk merengkuhnya sehingga kudapati kelegaan dan kebahagiaan dalam jiwaku. Tetapi kadang saya berfikir bahwa apa yang aku lakukan itu berlebihan, sampai suatu ketika aku baca dalam sirah Rasul kita yang agung dalam perang mu’tah; ketika beliau pergi ke rumah Ja’far bin Abi Thalib tuk mengunjungi anak-anaknya setelah Allah mengkhabarkan tentang kesyahidannya, rawi khabar ini menceritakan: maka Rasulullah ? menciumi anak-anak Ja’far dan mendekap mereka dalam ‘rengkuhannya’. Dan ketika kubaca kalimat itu tak kuat rasanya aku menguasai banjr tangisku.”

Wahai saudaraku Muslim yang mulia, makmurkanlah dunia ini dengan banjir kasihmu, berilah rasa semua hati dengan tambahan sayangmu dan khususkanlah saudara-saudara muslimmu dengan derajat tertinggi dari kehangatan cintamu, berilah rasa pada mereka bahwa kamu mencintainya. Itulah kapsul untuk mengobati 1001 kesulitan dan kemusykilan; sesungguhnya sebagian kemusykilan dunia ini di sebabkan oleh padam dan bekunya ‘athifah (cinta) atau karena penyelewengannya. Cinta yang pernah disabdakan oleh Baginda Panutan kita:

“Demi dzat yang jiwaku dalam kuasa-Nya, kalian tidak akan masuk surga sebelum kalian beriman, dan kalian belum dianggap beriman sebelum kalian saling mencintai dan mengasihi satu sama lain.”

Cinta kasih adalah ruh kehidupan dan pilar bagi lertarinya umat manusia. Oleh sebab itu Syaikh Yusuf Al-Qardhawiy menganalogikannya dengan quwwah maghnathisiyyah, cinta ibarat kekuatan gaya grafitasi. Apabila kekuatan gaya grafitasi dapat menahan bumi dan bintang-bintang dari saling bertumbuk-benturan dan runtuh, maka perasaan cinta kasih itulah yang menjadi kekuatan penahan dari terjadinya pertumbuk-benturan antar manusia yang menyebabkan terjadinya kehancuran. Inilah cinta kasih yang nilai kemanfaatannya telah diketahui oleh umat manusia, sehingga muncullah ungkapan: “Seandainya cinta dan kasih sayang ini telah berpengaruh dalam kehidupan maka manusia tak lagi memerlukan keadilan dan undang undang.”

Cinta adalah satu satunya mutiara yang dapat memberikan keamanan, ketentraman,dan kedamaian. Kita mencintai segala sesuatu dan segenap manusia, bahkan mencintai kesulitan dan rintangan sebagaimana kita mencintai nikmat dan kesenangan. Rintangan justru menumbuhkan semangat dan kekuatan untuk mengatasinya, sehingga jiwa bangkit dan bergerak dengan penuh gelora. Nikmat dan kesenangan ibarat angin yang dapat mendinginkan dan melembutkan panasnya medan perjuangan. Kita mencintai alam seluruhnya; permulaan dan kesudahannya, kematiaan dan kehidupan yang ada di dalamnya. Dan diantara manusia yang sanggup menganut cinta yang begitu besar hanyalah sebagian saja; mereka yang jiwanya bersinar cahaya iman, yang terpancar dari cintanya pada Rabb seluruh alam, yang mengaliri denyut nadi dan gerak titahnya.

Saudaraku, pembela kebenaran sejati! Alangkah indah dan bahagianya bila dai muslim tersinari cahaya cinta-kasih-Nya sebagai ruh gerak dakwahnya. Cinta yang mengharmonikan gerak-putar dakwah sehingga planet-planetnya terhindar dari pertumbuk-benturan. Mari mencari-gapai cinta-Nya!

Saudaraku di jalan Allah,
Sesungguhnya orang-orang yang mengusung tanggungjawab da’watullah kepada umat manusia mustilah berada dalam puncak kebersihan, fallahu thayyibun la yaqbalu illa thayyiba, Allah itu Maha Bagus tidak menerima kecuali yang bagus. Berangkat dari sinilah maka tidak sepatutnya kita membaca al Qur’an kecuali dalam keadaan suci. Demikian pula dakwah, yang kita gantungkan cita-cita kita padanya, yang kita songsong untuk masa depannya; sangat membutuhkan kebersihan hati kita tuk memberi dan menerima, bersabar dan menyabarkan, melapangkan (jiwa) dan bertoleransi. Kita membutuhkan hati yang (siap) terjun ditengah-tengah dhu’afa’, dan (siap) bangkit bersama mereka ke tingkat aqwiya’.

Hati yang sanggup mendekati jiwa-jiwa gersang dengan endapan langkah agar tidak dihindari dan disingkiri, tidak bercakap tentang orang lain kecuali yang baik; semua itu akan memberikan peluang hati mereka untuk (menerima) dakwah, bahkan musuhpun akan menjadi teman yang amat setia; faidzal ladziy bainaka wa bainahu ‘adawatun ka annahu waliyyun hamim, maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia. Dan semua itu kuncinya adalah kesucian dan kejernihan hati, itulah rahasia kesuksesan.

Sebentar lagi ‘bapak-bapak’ kita akan melakukan perjalanan jauh (karena kita tidak tahu sampai kapan takdir kita untuk tetap tinggal di alam jemala ini), mereka berharap telah dapat menitipkan hidupnya di jemari Yang Maha Agung, sebagaimana harapan mereka; “Telah kutitipakan tanggung jawab dakwah ini di pundak para aktifis muda yang jernih, bersih nan suci hatinya. Dan Allah Maha Tahu, sesungguhnya andaikan kami mencitai dunia ini tidak lain kecuali untuk tegaknya dakwah ini, dan bekal untuk perjalanan jauh ini; kullu nafsin dzaiqatul maut, setiap yang berjiwa pasti merasakan mati. Wama tadri nafsun madza taksibu ghadzaa wama tadri nafsun biayi ardhin tamut, tidak satu jiiwapun yang tahu apa yang akan diusahakan besok; dan tak satu jiwapun yang tahu di bumi mana ia akan mati”.

Kalau demikian yang terjadi pada setiap yang berjiwa, tiada jalan lain bagi kita kecuali merelisasikan cita kita dengan hati yang bersih, tulus dan suci; bersih dari rasa iri, dengki dan hasad. Hati yang terbebas dari kesombongan, bersih sesuci air mendung dan salju. Sehingga ketika ‘sandiwara pentas bumi yang fana telah digulung layarnya, yang dilanjutkan dengan gelar keniscayaan hidup diatas kehidupan, di mana segenap makhluk bumi dan langit, yang beriman dan bertakwa, senantiasa terhangati tulusnya Senyum Allah Rabbul ‘Izzah’. Allahu Akbar!

Wahai saudaraku di jalan Allah,
Engkau kirimkan padaku guratan tinta pikirmu, dan kau katakan padaku penuh dengan pujian. Tapi yang ingin aku katakan: bahwa nasehat dari kedalaman hati dan jiwa yang jernih nan suci akan memberikan percikan cahaya iman, sanggup mengubah sistem dan pola hidup, memberikan bekas yang dalam, menggedor dan menusuk kedunguan hati yang membeku tuk melelehkan butiran-butiran hangat-dingin menbanjiri sujud kepatuhan di hadapan Yang Maha Agung dan Pengampun.

Alangkah senang dan bahagianya si pemilik hati itu, hidup dengan kesucian, kebersihan dan ketulusan hati. Alangkah senang dan bahagianya jika aku dan engkau, saudaraku, memiliki hati yang demikian itu. Semoga Allah swt melindungi, membimbing dan menambah limpahan iman dan taqwa kepada kita, teguh di atas kebenaran. Semoga Allah swt menunjuki kita dengan cahaya-Nya tuk menerangi perjalanan kita dalam mengusung amanah dakwah ini dengan cara hikmah dan kalimah thayyibah. Hikmah itu, sesungguhnya bila keluar dari hati yang selalu conect dengan Rabbnya akan menyalakan pelita hidayah.

Kita tentu senang dan bahagia … kebahagiaan yang terpancar dari aqidah kita yang benar… aqidah yang oleh karenanya kita berkumpul dan bersatu … aqidah yang telah memanjangkan semangat hidup kita. Dan kita telah bersaksi atasnya.

Saudaraku, pembela kebenaran sejati! Kita memang butuh kepercayaan walaupun kadang kita selalu memiliki banyak kekurangan di dalam memenuhi dan menunaikan amanah dan tututan hak-hak Islam pada kita. Untuk itu kita buka pintu hati kita untuk menerima dengan tulus-bahagia seruan dakwah Islam, kita nikmati seruan itu dengan semangat ruh risalah kita. Para pendahulu kita pernah mengungkapkan; inna fi hadzihil ummati manajima la yahjubuha ‘ankum illa ghubaruz zamani, sejatinya dalam ummat ini ada wadug-wadug tambang dari hati; tak suatu apapun yang menghalanginya dari (jangkauan)mu kecuali debu-debu zaman.

Saudaraku, penyeru keagungan Islam! Belai dan basuhlah kuncup-kuncup hati itu biar mekar bagaikan bunga. Dengan demikian bisa kita keluarkan buliran-buliran mutiara yang tersimpan di dalamnya, pancarkan sumber-sumber kebajikan dari hati mereka. Kita, saya dan anda teramat perlu belajar untuk itu. Jangan ragu-ragu untuk berkata; kata-kata yang tercurah dari puncak keyakinan yang tulus dan keikhlasan (bersih dari segala macam kesyirikan), karana Allah swt tidak akan menerima amal dakwah yang kita persekutukan dengan yang selain-Nya; dengan apapun. Faman kana yarju liqa-a rabbihi falya’mal ‘amalan shalihan wala yusyrik bi ’ibadati rabbihi ahada, maka barang siapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya hendaklah ia beramal dengan amalan yang tulus; tidak menyekutukan seorangpun dalam beribadah dengan Tuhannya.

Saudaraku di jalan Allah,
Di dalam ‘awathif yang bening nan jernih — sebagaimana telah kusuguhkan di lapang dadamu – disitulah kehidupan … kebahagiaan … dan kelimpah-ruahan. Di dalamnya tedapat kekuatan, cadangan logistik, obat-obatan, dan keindahan, ada kebun-kebun dan tetamanan. Bagi pemilik ‘awathif yang demikian akan ia jumpai kegembiraan yang meruah, kebahagiaan yang mencurah dan kesenangan yang melimpah, meluber memenuhi jagad dunia jemala ini. Hatinya akan berdegup-dentum seakan hendak terbang penuh kegirangan. Menatap jauh kedepan akan cita dan harapan tampilnya seorang jundi sejati dari jundi-jundi dakwah ini. Ya Allah, dengan apa yang telah engkau ketahui akan cinta kami pada saudara-saudara kami, bahagiakanlah kami bersama mereka dengan tampilnya rijalud da’wah dan jundi-jundi aqidah yang mengusung amanah, penyeru dan pembawa misi (risalah)……………………

Demikian, semoga Allah swt selalu melindungi dan melempangkan jalan dakwah kita, selalu memberi bimbingan-Nya pada kita agar tetap konsisten meniti manhaj-Nya.
Wassalamu ‘alaikum wr.wb.

Harga Hubbud-Dun-Ya (Cinta Dunia)

Kenangan indahnya ghonimah perang Badar masih begitu terasa pada sebagian ummat Islam. Rampasan perang yang pada ummat-ummat terdahulu diharamkan itu, kini dihalalkan Allah SWT bagi ummat Islam.

Keindahan itu masih terus membekas dan turut menjadi pendorong sebagian mereka untuk berangkat dan ikut serta dalam perang Uhud.

Seandainya kita yang mendapatkan harta ‘melimpah’ itu, tentu banyak hal yang bisa kita lakukan; membayar hutang, modal untuk memulai usaha atau wiraswasta, menikah (kalau masih bujangan), atau menikah lagi bila sudah beristri, membayar kontrakan yang hampir jatuh tempo, bahkan membeli tanah dan membangun rumah sekaligus, membeli mobil, melengkapi isi rumah dengan perabot-perabot ‘modern’, membayar iurang sekolah anak yang sudah sekian lama menunggak, dan macam-macam lainnya.

Ini jika kita yang menerima dan mendapatkan rapasan perang atau ghonimah itu.

Bagaimana dengan sebagian sahabat nabi SAW pada waktu itu?

Marilah kita simak penuturan Ibnu Mas’ud RA berikut ini:

"Kami tidak merasa bahwa ada seseorang dari sahabat Nabi SAW menginginkan dunia dan perkakasnya sehingga terjadilah peristwia Uhud."

Untuk lebih jelasnya, marilah kita simak firman Allah SWT berikut ini:

Dan sesungguhnya Allah telah memenuhi janji-Nya kepada kamu, ketika kamu membunuh mereka dengan izin-Nya sampai pada saat kamu lemah dan berselisih pada urusan itu dan mendurhakai perintah (Rasul) sesudah Allah memperlihatkan kepadamu apa yang kamu sukai. Di antara kamu ada orang yang menghendaki dunia dan di antara kamu ada orang yang menghendaki akhirat. Kemudian Allah memalingkan kamu dari mereka untuk menguji kamu; dan sesungguhnya Allah telah memaafkan kamu. Dan Allah mempunyai karunia (yang dilimpahkan) atas orang-orang yang beriman. (QS. Ali Imran: 152)

Ayat ini menjelaskan bahwa:

  1. Pada awal perang Uhud, Allah SWT telah memenuhi janji-Nya yang berupa
    kemenangan atas kaum musyrikin di bawah pimpinan Abu Sufyan.
  2. Kemudian kaum muslimin tertimpa beberapa hal, yaitu:
    • Fasyal (takut dan lemah)
    • Tanazu’ (berselisih)
    • Ma’shiyat (mendurhakai perintah dan tidak taat)
  3. Karena beberapa hal inilah kemenangan yang sangat dicintai itu kemudian
    berubah menjadi kekalahan.
  4. Hal itu terjadi karena ada sebagian kaum muslimin yang menginginkan atau
    mencintai dunia.

Dalam buku-buku sirah disebutkan bahwa pada awal berkecamuknya perang Uhud, kaum muslimin berhasil memukul mundur orang-orang musyrik.

Orang-orang musyrik yang terpukul mundur lari tunggang langgang meninggalkan banyak harta rampasan perang.

Melihat begitu banyaknya harta yang tercecer, sebagian kaum muslimin tergiur untuk segera memunguti dan mengumpulkannya.

Yang lebih fatal, sebagian pasukan pemanah yang ditempatkan di gunung Uhud-pun ikut "turun gunung". Padahal tugas utama mereka adalah membentengi pasukan Islam dari kemungkinan serangan dari belakang.

Benar saja, pasukan musyrik di bawah pimpinan Khalid bin Al Walid (sebelum ia masuk Islam pada kemudian hari) segera menyerang dari belakang, saat melihat pertahanan pada bukit Uhud melemah, melemah karena ditinggalkan banyak penjaganya yang asyik dan sibuk memunguti dan mengumpulkan harta rampasan perang.

Memang benar, yang menginginkan dunia (baca: cinta dunia) bukanlah keseluruhan pasukan Islam (baca: hanya beberapa oknum).

Akan tetapi, bukankah ini menunjukkan bahwa barisan pasukan Islam tidak lagi utuh?

Bukankah ini menunjukkan bahwa tujuan dan target mereka tidak sama lagi? Sebagian menginginkan akhirat dan sebagian lagi menginginkan dunia?

Bukankah pula ini menunjukkan bahwa kejernihan dan kebeningan ikhlash telah terkotori oleh polusi interest pribadi atau kelompok dan cinta dunia?

Kita harus mengingat dan sadar, bahwa perang Uhud bukanlah sekedar perang biasa. Perang Uhud adalah peperangan aqidah (idiologi), peperangan nurani di samping peperang di medan laga. Dan tidak ada kemenangan pada peperangan di medan laga, bila dalam peperangan idiologis dan peperangan nurani kaum muslimin tidak mendapatkan kemenangan. Kita juga harus mengingatkan bahwa perang Uhud adalah peperangan fii sabilillah, dan Allah SWT tidak akan memberikan kemenangan pada peperangan seperti itu jika niat tidak ikhlash, tidak tulus, dan tidak jernih.

Karena adanya perubahan pada hati dan nurani sebagian kaum muslimin itu, berubah pulalah keadaan di medan laga.

Kini pasukan Islam terjepit di antara dua kekuatan musuh. Sungguh, sebuah keadaan yang sangat tidak menguntungkan.

Kaum muslim pun harus membayar mahal atas cinta sebagian mereka kepada dunia itu:

  1. Lima ribu malaikat yang dijanjikan Allah SWT akan diturunkan, tidak jadi
    diturunkan, karena janji itu terkait dengan persyaratan yang harus dipenuhi,
    yaitu: tsabat (tegar), termasuk dihadapan godaan harta.
  2. Dalam peperangan ini, telah terbunuh sebagai syuhada’ sebanyak 69
    orang, termasuk di antaranya: Sayyidus Syuhada’ Hamzah bin Abi
    Thalib, paman nabi SAW, dan orang yang sangat beliau cintai.
  3. Rasulullah SAW sendiri pada peperangan itu ikut membayar ulah beberapa
    oknum sahabatnya, beliau terperosok ke dalam lubang jebakan yang dibuat kaum
    musyrikin, dan hampir saja beliau SAW terbunuh. Empat gigi depan beliau SAW
    pecah dan tanggal. Muka beliau terluka oleh jepitan topi besi yang beliau
    kenakan.
  4. Belum lagi kerugian-kerugian materiil dan kerugian-kerugian
    lainnya.

Semoga Allah SWT memberikan kekuatan kepada kita untuk tetap tabah, sabar, dan tsabat dalam meniti jalan Allah yang lurus (shiratal mustaqim), termasuk tabah, sabar, dan tsabat dalam menghadapi godaan harta dan "ghonimah" era "REFORMASI". Aamiin.

Oleh : Ust. Musyaffa A. Rahim, Lc.

RAIHANA

Dengan panjang lebar ibu menjelaskan, sebenarnya sejak ada dalan kandungan aku telah dijodohkan dengan Raihana yang tak pernah kukenal." Ibunya Raihana adalah teman karib ibu waktu belajar di pondok Mangkuyudan Solo dulu" kata ibu.

"Kami pernah berjanji, jika dikurnia anak berlainan jenis akan kami berbesan untuk memperteguh tali persaudaraan. Karena itu ibu mohon keikhlasanmu", ucap beliau dengan nada menghiba.

Dalam pergulatan jiwa yang sulit berhari-hari, akhirnya aku pasrah. Aku menuruti keinginan ibu. Aku tak mau mengecewakan ibu. Aku ingin menjadi mentari pagi dihatinya, meskipun untuk itu aku harus mengorbankan diriku.

Dengan hati pahit kuserahkan semuanya bulat-bulat pada ibu. Meskipun sesungguhnya dalam hatiku timbul kecemasan-kecemasan yang datang begitu saja dan tidak tahu alasannya. Yang jelas aku sudah punya kriteria dan impian tersendiri untuk calon istriku. Aku tidak bisa berbuat apa-apa berhadapan dengan air mata ibu yang amat kucintai. Saat khitbah (lamaran) sekilas kutatap wajah Raihana, benar kata Aida adikku, ia memang baby face dan anggun.

Namun garis-garis kecantikan yang kuinginkan tak kutemukan sama sekali. Adikku, Lia mengakui Raihana cantik, "cantiknya alami, bisa jadi bintang iklan Lux ye.., asli ! kata Lia. Tapi penilaianku lain, mungkin karena aku begitu hanyut dengan gadis-gadis Mesir titisan Cleopatra, yang tinggi semampai, wajahnya putih jelita, dengan hidung melengkung indah, mata bulat bening khas arab, dan bibir yang merah. Di hari-hari menjelang pernikahanku, aku berusaha menumbuhkan bibit-bibit cintaku untuk calon istriku, tetapi usahaku selalu sia-sia.

Aku ingin memberontak pada ibuku, tetapi wajah teduhnya meluluhkanku. Hari pernikahan datang. Duduk dipelamin bagai mayat hidup, hati hampa tanpa cinta, Pestapun meriah dengan kehadiran kumpulan rebana. Lantunan shalawat Nabipun terasa menusuk-nusuk hati. Kulihat Raihana tersenyum manis, tetapi hatiku terasa teriris-iris dan jiwaku meronta. Satu-satunya harapanku adalah mendapat berkah dari Allah SWT atas baktiku pada ibuku yang kucintai. Rabbighfir li wa liwalidayya!

Layaknya pengantin baru, kupaksakan untuk mesra tapi bukan cinta, hanya sekedar karena aku seorang manusia yang terbiasa membaca ayat-ayatNya. Raihana tersenyum mengembang, hatiku menangisi kebohonganku dan kepura-puraanku. Tepat dua bulan Raihana kubawa ke kontrakan dipinggir kota Malang.

Mulailah kehidupan hampa. Aku tak menemukan adanya gairah. Betapa susah hidup berkeluarga tanpa cinta. Makan, minum, tidur, dan shalat bersama dengan makhluk yang bernama Raihana, istriku, tapi Masya Allah bibit cintaku belum juga tumbuh. Suaranya yang lembut terasa hambar, wajahnya yang teduh tetap terasa asing. Memasuki bulan keempat, rasa muak hidup bersama Raihana mulai kurasakan, rasa ini muncul begitu saja. Aku mencoba membuang jauh-jauh rasa tidak baik ini, apalagi pada istri sendiri yang seharusnya kusayang dan kucintai. Sikapku pada Raihana mulai lain. Aku lebih banyak diam, acuh tak acuh, agak sinis, dan tidur pun lebih banyak di ruang tamu atau ruang kerja. Aku merasa hidupku ada lah sia-sia, belajar di luar negeri sia-sia, pernikahanku sia-sia, keberadaanku sia-sia.

Tidak hanya aku yang tersiksa, Raihanapun merasakan hal yang sama, karena ia orang yang berpendidikan, maka diapun tanya, tetapi kujawab " tidak apa-apa koq mbak, mungkin aku belum dewasa, mungkin masih harus belajar berumah tangga" Ada kekagetan yang kutangkap diwajah Raihana ketika kupanggil ‘mbak’, " kenapa mas memanggilku mbak, aku kan istrimu, apa mas sudah tidak mencintaiku" tanyanya dengan guratan wajah yang sedih. "wallahu a’lam" jawabku sekenanya. Dengan mata berkaca-kaca Raihana diam menunduk, tak lama kemudian dia terisak-isak sambil memeluk kakiku, "Kalau mas tidak mencintaiku, tidak menerimaku sebagai istri kenapa mas ucapkan akad nikah?

Kalau dalam tingkahku melayani mas masih ada yang kurang berkenan, kenapa mas tidak bilang dan menegurnya, kenapa mas diam saja, aku harus bersikap bagaimana untuk membahagiakan mas, kumohon bukalah sedikit hatimu untuk menjadi ruang bagi pengabdianku, bagi menyempurnakan ibadahku didunia ini". Raihana mengiba penuh pasrah. Aku menangis menitikan air mata buka karena Raihana tetapi karena kepatunganku. Hari terus berjalan, tetapi komunikasi kami tidak berjalan. Kami hidup seperti orang asing tetapi Raihana tetap melayaniku menyiapkan segalanya untukku.

Suatu sore aku pulang mengajar dan kehujanan, sampai dirumah habis maghrib, bibirku pucat, perutku belum kemasukkan apa-apa kecuali segelas kopi buatan Raihana tadi pagi, Memang aku berangkat pagi karena ada janji dengan teman. Raihana memandangiku dengan khawatir. "Mas tidak apa-apa" tanyanya dengan perasaan kuatir. "Mas mandi dengan air panas saja, aku sedang menggodoknya, lima menit lagi mendidih" lanjutnya. Aku melepas semua pakaian yang basah. "Mas airnya sudah siap" kata Raihana. Aku tak bicara sepatah katapun, aku langsung ke kamar mandi, aku lupa membawa handuk, tetapi Raihana telah berdiri didepan pintu membawa handuk. "Mas aku buatkan wedang jahe" Aku diam saja. Aku merasa mulas dan mual dalam perutku tak bisa kutahan. Dengan cepat aku berlari ke kamar mandi dan Raihana mengejarku dan memijit-mijit pundak dan tengkukku seperti yang dilakukan ibu. " Mas masuk angin. Biasanya kalau masuk angin diobati pakai apa, pakai balsam, minyak putih, atau jamu?" Tanya Raihana sambil menuntunku ke kamar. "Mas jangan diam saja dong, aku kan tidak tahu apa yang harus kulakukan untuk membantu Mas". " Biasanya dikerokin" jawabku lirih. " Kalau begitu kaos mas dilepas ya, biar Hana kerokin" sahut Raihana sambil tangannya melepas kaosku. Aku seperti anak kecil yang dimanja ibunya. Raihana dengan sabar mengerokin punggungku dengan sentuhan tangannya yang halus. Setelah selesai dikerokin, Raihana membawakanku semangkok bubur kacang hijau. Setelah itu aku merebahkan diri di tempat tidur. Kulihat Raihana duduk di kursi tak jauh dari tempat tidur sambil menghafal Al Quran dengan khusyu. Aku kembali sedih dan ingin menangis, Raihana manis tapi tak semanis gadis-gadis mesir titisan Cleopatra.

Dalam tidur aku bermimpi bertemu dengan Cleopatra, ia mengundangku untuk makan malam di istananya." Aku punya keponakan namanya Mona Zaki, nanti akan aku perkenalkan denganmu" kata Ratu Cleopatra. " Dia memintaku untuk mencarikannya seorang pangeran, aku melihatmu cocok dan berniat memperkenalkannya denganmu". Aku mempersiapkan segalanya. Tepat puku 07.00 aku datang ke istana, kulihat Mona Zaki dengan pakaian pengantinnya, cantik sekali. Sang ratu mempersilakan aku duduk di kursi yang berhias berlian.

Aku melangkah maju, belum sempat duduk, tiba-tiba " Mas, bangun, sudah jam setengah empat, mas belum sholat Isya" kata Raihana membangunkanku. Aku terbangun dengan perasaan kecewa. " Maafkan aku Mas, membuat Mas kurang suka, tetapi Mas belum sholat Isya" lirih Hana sambil melepas mukenanya, mungkin dia baru selesai sholat malam. Meskipun cuman mimpi tapi itu indah sekali, tapi sayang terputus. Aku jadi semakin tidak suka sama dia, dialah pemutus harapanku dan mimpi-mimpiku. Tapi apakah dia bersalah, bukankah dia berbuat baik membangunkanku untuk sholat Isya. Selanjutnya aku merasa sulit hidup bersama Raihana, aku tidak tahu dari mana sulitnya. Rasa tidak suka semakin menjadi-jadi. Aku benar-benar terpenjara dalam suasana konyol. Aku belum bisa menyukai Raihana. Aku sendiri belum pernah jatuh cinta, entah kenapa bisa dijajah pesona gadis-gadis titisan Cleopatra.

" Mas, nanti sore ada acara aqiqah di rumah Yu Imah. Semua keluarga akan datang termasuk ibundamu. Kita diundang juga. Yuk, kita datang bareng, tidak enak kalau kita yang dieluk-elukan keluarga tidak datang" Suara lembut Raihana menyadarkan pengembaraanku pada Jaman Ibnu Hazm. Pelan-pelan ia letakkan nampan yang berisi onde-onde kesukaanku dan segelas wedang jahe. Tangannya yang halus agak gemetar. Aku dingin-dingin saja. " Maâf..maaf jika mengganggu Mas, maafkan Hana," lirihnya, lalu perlahan-lahan beranjak meninggalkan aku di ruang kerja. " Mbak! Eh maaf, maksudku D..Din..Dinda Hana!, panggilku dengan suara parau tercekak dalam tenggorokan. " Ya Mas!" sahut Hana langsung menghentikan langkahnya dan pelan-pelan menghadapkan dirinya padaku. Ia berusaha untuk tersenyum, agaknya ia bahagia dipanggil "dinda". " Matanya sedikit berbinar. "Te..terima kasih Di..dinda, kita berangkat bareng kesana, habis sholat dhuhur, insya Allah," ucapku sambil menatap wajah Hana dengan senyum yang kupaksakan.

Raihana menatapku dengan wajah sangat cerah, ada secercah senyum bersinar dibibirnya. " Terima kasih Mas, Ibu kita pasti senang, mau pakai baju yang mana Mas, biar dinda siapkan? Atau biar dinda saja yang memilihkan ya?". Hana begitu bahagia.

Perempuan berjilbab ini memang luar biasa, Ia tetap sabar mencurahkan bakti meskipun aku dingin dan acuh tak acuh padanya selama ini. Aku belum pernah melihatnya memasang wajah masam atau tidak suka padaku. Kalau wajah sedihnya ya. Tapi wajah tidak sukanya belum pernah. Bah, lelaki macam apa aku ini, kutukku pada diriku sendiri. Aku memaki-maki diriku sendiri atas sikap dinginku selama ini., Tapi, setetes embun cinta yang kuharapkan membasahi hatiku tak juga turun. Kecantikan aura titisan Cleopatra itu? Bagaimana aku mengusirnya. Aku merasa menjadi orang yang paling membenci diriku sendiri di dunia ini.

Acara pengajian dan qiqah putra ketiga Fatimah kakak sulung Raihana membawa sejarah baru lembaran pernikahan kami. Benar dugaan Raihana, kami dielu-elukan keluarga, disambut hangat, penuh cinta, dan penuh bangga. " Selamat datang pengantin baru! Selamat datang pasangan yang paling ideal dalam keluarga! Sambut Yu Imah disambut tepuk tangan bahagia mertua dan bundaku serta kerabat yang lain. Wajah Raihana cerah. Matanya berbinar-binar bahagia. Lain dengan aku, dalam hatiku menangis disebut pasangan ideal.

Apanya yang ideal. Apa karena aku lulusan Mesir dan Raihana lulusan terbaik dikampusnya dan hafal Al Quran lantas disebut ideal? Ideal bagiku adalah seperti Ibnu Hazm dan istrinya, saling memiliki rasa cinta yang sampai pada pengorbanan satu sama lain. Rasa cinta yang tidak lagi memungkinkan adanya pengkhianatan. Rasa cinta yang dari detik ke detik meneteskan rasa bahagia.

Tapi diriku? Aku belum bisa memiliki cinta seperti yang dimiliki Raihana. Sambutan sanak saudara pada kami benar-benar hangat. Aku dibuat kaget oleh sikap Raihana yang begitu kuat menjaga kewibawaanku di mata keluarga. Pada ibuku dan semuanya tidak pernah diceritakan, kecuali menyanjung kebaikanku sebagai seorang suami yang dicintainya. Bahkan ia mengaku bangga dan bahagia menjadi istriku. Aku sendiri dibuat pusing dengan sikapku. Lebih pusing lagi sikap ibuku dan mertuaku yang menyindir tentang keturunan. " Sudah satu tahun putra sulungku menikah, koq belum ada tanda-tandanya ya, padahal aku ingin sekali menimang cucu" kata ibuku. " Insya Allah tak lama lagi, ibu akan menimang cucu, doakanlah kami. Bukankah begitu, Mas?" sahut Raihana sambil menyikut lenganku, aku tergagap dan mengangguk sekenanya.

Setelah peristiwa itu, aku mencoba bersikap bersahabat dengan Raihana. Aku berpura-pura kembali mesra dengannya, sebagai suami betulan. Jujur, aku hanya pura-pura. Sebab bukan atas dasar cinta, dan bukan kehendakku sendiri aku melakukannya, ini semua demi ibuku. Allah Maha Kuasa. Kepura-puraanku memuliakan Raihana sebagai seorang istri. Raihana hamil. Ia semakin manis.

Keluarga bersuka cita semua. Namun hatiku menangis karena cinta tak kunjung tiba. Tuhan kasihanilah hamba, datangkanlah cinta itu segera. Sejak itu aku semakin sedih sehingga Raihana yang sedang hamil tidak kuperhatikan lagi. Setiap saat nuraniku bertanya" Mana tanggung jawabmu!" Aku hanya diam dan mendesah sedih. " Entahlah, betapa sulit aku menemukan cinta" gumamku.

Dan akhirnya datanglah hari itu, usia kehamilan Raihana memasuki bulan ke enam. Raihana minta ijin untuk tinggal bersama orang tuanya dengan alasan kesehatan. Kukabulkan permintaanya dan kuantarkan dia kerumahnya. Karena rumah mertua jauh dari kampus tempat aku mengajar, mertuaku tak menaruh curiga ketika aku harus tetap tinggal dikontrakan. Ketika aku pamitan, Raihana berpesan, " Mas untuk menambah biaya kelahiran anak kita, tolong nanti cairkan tabunganku yang ada di ATM. Aku taruh dibawah bantal, no.pinnya sama dengan tanggal pernikahan kita".

Setelah Raihana tinggal bersama ibunya, aku sedikit lega. Setiap hari Aku tidak bertemu dengan orang yang membuatku tidak nyaman. Entah apa sebabnya bisa demikian. Hanya saja aku sedikit repot, harus menyiapkan segalanya. Tapi toh bukan masalah bagiku, karena aku sudah terbiasa saat kuliah di Mesir.

Waktu terus berjalan, dan aku merasa enjoy tanpa Raihana. Suatu saat aku pulang kehujanan. Sampai rumah hari sudah petang, aku merasa tubuhku benar-benar lemas. Aku muntah-muntah, menggigil, kepala pusing dan perut mual. Saat itu terlintas dihati andaikan ada Raihana, dia pasti telah menyiapkan air panas, bubur kacang hijau, membantu mengobati masuk angin dengan mengeroki punggungku, lalu menyuruhku istirahat dan menutupi tubuhku dengan selimut. Malam itu aku benar-benar tersiksa dan menderita. Aku terbangun jam enam pagi. Badan sudah segar. Tapi ada penyesalan dalam hati, aku belum sholat Isya dan terlambat sholat subuh. Baru sedikit terasa, andaikan ada Raihana tentu aku ngak meninggalkan sholat Isya, dan tidak terlambat sholat subuh.

Lintasan Raihana hilang seiring keberangkatan mengajar di kampus. Apalagi aku mendapat tugas dari universitas untuk mengikuti pelatihan mutu dosen mata kuliah bahasa arab. Diantaranya tutornya adalah professor bahasa arab dari Mesir. Aku jadi banyak berbincang dengan beliau tentang mesir. Dalam pelatihan aku juga berkenalan dengan Pak Qalyubi, seorang dosen bahasa arab dari Medan. Dia menempuh S1-nya di Mesir. Dia menceritakan satu pengalaman hidup yang menurutnya pahit dan terlanjur dijalani. "Apakah kamu sudah menikah?" kata Pak Qalyubi. "Alhamdulillah, sudah" jawabku. " Dengan orang mana?. " Orang Jawa". " Pasti orang yang baik ya. Iya kan? Biasanya pulang dari Mesir banyak saudara yang menawarkan untuk menikah dengan perempuan shalehah. Paling tidak santriwati, lulusan pesantren. Istrimu dari pesantren?". "Pernah, alhamdulillah dia sarjana dan hafal Al Quran". " Kau sangat beruntung, tidak sepertiku". " Kenapa dengan Bapak?" " Aku melakukan langkah yang salah, seandainya aku tidak menikah dengan orang Mesir itu, tentu batinku tidak merana seperti sekarang". " Bagaimana itu bisa terjadi?". "

Kamu tentu tahu kan gadis Mesir itu cantik-cantik, dank arena terpesona dengan kecantikanya saya menderita seperti ini. Ceritanya begini, Saya seorang anak tunggal dari seorang yang kaya, saya berangkat ke Mesir dengan biaya orang tua. Disana saya bersama kakak kelas namanya Fadhil, orang Medan juga. Seiring dengan berjalannya waktu, tahun pertama saya lulus dengan predkat jayyid, predikat yang cukup sulit bagi pelajar dari Indonesia.

Demikian juga dengan tahun kedua. Karena prestasi saya, tuan rumah tempat saya tinggal menyukai saya. Saya dikenalkan dengan anak gadisnya yang bernama Yasmin. Dia tidak pakai jilbab. Pada pandangan pertama saya jatuh cinta, saya belum pernah melihat gadis secantuk itu. Saya bersumpah tidak akan menikaha dengan siapapun kecuali dia. Ternyata perasaan saya tidak bertepuk sebelah tangan. Kisah cinta saya didengar oleh Fadhil. Fadhil membuat garis tegas, akhiri hubungan dengan anak tuan rumah itu atau sekalian lanjutkan dengan menikahinya. Saya memilih yang kedua.

Ketika saya menikahi Yasmin, banyak teman-teman yang memberi masukan begini, sama-sama menikah dengan gadis Mesir, kenapa tidak mencari mahasiswi Al Azhar yang hafal Al Quran, salehah, dan berjilbab. Itu lebih selamat dari pada dengan YAsmin yang awam pengetahuan agamanya. Tetapi saya tetap teguh untuk menikahinya. Dengan biaya yang tinggi saya berhasil menikahi YAsmin. Yasmin menuntut diberi sesuatu yang lebih dari gadis Mesir.

Perabot rumah yang mewah, menginap di hotel berbintang. Begitu selesai S1 saya kembali ke Medan, saya minta agar asset yang di Mesir dijual untuk modal di Indonesia. KAmi langsung membeli rumah yang cukup mewah di kota Medan. Tahun-tahun pertama hidup kami berjalan baik, setiap tahunnya Yasmin mengajak ke Mesir menengok orang tuanya. Aku masih bisa memenuhi semua yang diinginkan YAsmin. Hidup terus berjalan, biaya hidup semakin nambah, anak kami yang ketiga lahir, tetapi pemasukan tidak bertambah. Saya minta YAsmin untuk berhemat. Tidak setiap tahun tetapi tiga tahun sekali YAsmin tidak bisa.

Aku mati-matian berbisnis, demi keinginan Yasmin dan anak-anak terpenuhi. Sawah terakhir milik Ayah saya jual untuk modal. Dalam diri saya mulai muncul penyesalan. Setiap kali saya melihat teman-teman alumni Mesir yang hidup dengan tenang dan damai dengan istrinya. Bisa mengamalkan ilmu dan bisa berdakwah dengan baik. Dicintai masyarakat. Saya tidak mendapatkan apa yang mereka dapatkan. Jika saya pengin rending, saya harus ke warung. YAsmin tidak mau tahu dengan masakan Indonesia.

Kau tahu sendiri, gadis Mesir biasanya memanggil suaminya dengan namanya. Jika ada sedikit letupan, maka rumah seperti neraka. Puncak penderitaan saya dimulai setahun yang lalu. Usaha saya bangkrut, saya minta YAsmin untuk menjual perhiasannya, tetapi dia tidak mau. Dia malah membandingkan dirinya yang hidup serba kurang dengan sepupunya. Sepupunya mendapat suami orang Mesir.

Saya menyesal meletakkan kecantikan diatas segalanya. Saya telah diperbudak dengan kecantikannya. Mengetahui keadaan saya yang terjepit, ayah dan ibu mengalah. Mereka menjual rumah dan tanah, yang akhirnya mereka tinggal di ruko yang kecil dan sempit. Batin saya menangis. Mereka berharap modal itu cukup untuk merintis bisnis saya yang bangkrut. Bisnis saya mulai bangkit, Yasmin mulai berulah, dia mengajak ke Mesir. Waktu di Mesir itulah puncak tragedy yang menyakitkan. " Aku menyesal menikah dengan orang Indonesia, aku minta kau ceraikan aku, aku tidak bisa bahagia kecuali dengan lelaki Mesir". Kata Yasmin yang bagaikan geledek menyambar. Lalu tanpa dosa dia bercerita bahwa tadi di KBRI dia bertemu dengan temannya. Teman lamanya itu sudah jadi bisnisman, dan istrinya sudah meninggal.

Yasmin diajak makan siang, dan dilanjutkan dengan perselingkuhan. Aku pukul dia karena tak bisa menahan diri. Atas tindakan itu saya dilaporkan ke polisi. Yang menyakitkan adalah tak satupun keluarganya yang membelaku. Rupanya selama ini Yasmin sering mengirim surat yang berisi berita bohong. Sejak saat itu saya mengalami depresi. Dua bulan yang lalu saya mendapat surat cerai dari Mesir sekaligus mendapat salinan surat nikah Yasmin dengan temannya. Hati saya sangat sakit, ketika si sulung menggigau meminta ibunya pulang".

Mendengar cerita Pak Qulyubi membuatku terisak-isak. Perjalanan hidupnya menyadarkanku. Aku teringat Raihana. Perlahan wajahnya terbayang dimataku, tak terasa sudah dua bulan aku berpisah dengannya. Tiba-tiba ada kerinduan yang menyelinap dihati. Dia istri yang sangat shalehah. Tidak pernah meminta apapun. Bahkan yang keluar adalah pengabdian dan pengorbanan. Hanya karena kemurahan Allah aku mendapatkan istri seperti dia. Meskipun hatiku belum terbuka lebar, tetapi wajah Raihana telah menyala didindingnya. Apa yang sedang dilakukan Raihana sekarang? Bagaimana kandungannya? Sudah delapan bulan. Sebentar lagi melahirkan. Aku jadi teringat pesannya. Dia ingin agar aku mencairkan tabungannya.

Pulang dari pelatihan, aku menyempatkan ke toko baju muslim, aku ingin membelikannya untuk Raihana, juga daster, dan pakaian bayi. Aku ingin memberikan kejutan, agar dia tersenyum menyambut kedatanganku. Aku tidak langsung ke rumah mertua, tetapi ke kontrakan untuk mengambil uang tabungan, yang disimpan dibawah bantal.

Dibawah kasur itu kutemukan kertas merah jambu. Hatiku berdesir, darahku Pulang dari pelatihan, aku menyempatkan ke took baju muslim, aku ingin membelikannya untuk Raihana, juga daster, dan pakaian bayi. Aku ingin memberikan kejutan, agar dia tersenyum menyambut kedatanganku.

Aku tidak langsung ke rumah mertua, tetapi ke kontrakan untuk mengambil uang tabungan, yang disimpan dibawah bantal.

Dibawah kasur itu kutemukan kertas merah jambu. Hatiku berdesir, darahku terkesiap. Surat cinta siapa ini, rasanya aku belum pernah membuat surat cinta untuk istriku. Jangan-jangan ini surat cinta istriku dengan lelaki lain. Gila! Jangan-jangan istriku "serong"?.

Dengan rasa takut kubaca surat itu satu persatu. Dan Rabbi ternyata surat-surat itu adalah ungkapan hati Raihana yang selama ini aku zhalimi. Ia menulis, betapa ia mati-matian mencintaiku, meredam rindunya akan belaianku. Ia menguatkan diri untuk menahan nestapa dan derita yang luar biasa. Hanya Allah lah tempat ia meratap melabuhkan dukanya. Dan ya .. Allah, ia tetap setia memanjatkan doa untuk kebaikan suaminya. Dan betapa dia ingin hadirnya cinta sejati dariku.

"Rabbi dengan penuh kesyukuran, hamba bersimpuh dihadapan-Mu. Lakal hamdu ya Rabb. Telah muliakan hamba dengan Al Quran. Kalaulah bukan karena karunia-Mu yang agung ini, niscaya hamba sudah terperosok kedalam jurang kenistaan. Ya Rabbi, curahkan tambahan kesabaran dalam diri hamba" tulis Raihana.

Dalam akhir tulisannya Raihana berdoa" Ya Allah inilah hamba-Mu yang kerdil penuh noda dan dosa kembali datang mengetuk pintumu, melabuhkan derita jiwa ini kehadirat-Mu. Ya Allah sudah tujuh bulan ini hamba-Mu ini hamil penuh derita dan kepayahan. Namun kenapa begitu tega suami hamba tak mempedulikanku dan menelantarkanku. Masih kurang apa rasa cinta hamba padanya. Masih kurang apa kesetiaanku padanya. Masih kurang apa baktiku padanya? Ya Allah, jika memang masih ada yang kurang, ilhamkanlah pada hamba-Mu ini cara berakhlak yang lebih mulia lagi pada suamiku.

Ya Allah, dengan rahmatMu hamba mohon jangan murkai dia karena kelalaiannya. Cukup hamba saja yang menderita. Maafkanlah dia, dengan penuh cinta hamba masih tetap menyayanginya. Ya Allah berilah hamba kekuatan untuk tetap berbakti dan memuliakannya. Ya Allah, Engkau maha Tahu bahwa hamba sangat mencintainya karena-Mu. Sampaikanlah rasa cinta ini kepadanya dengan cara-Mu. Tegurlah dia dengan teguran-Mu. Ya Allah dengarkanlah doa hamba-Mu ini. Tiada Tuhan yang layak disembah kecuali Engkau, Maha Suci Engkau".

Tak terasa air mataku mengalir, dadaku terasa sesak oleh rasa haru yang luar biasa. Tangisku meledak. Dalam tangisku semua kebaikan Raihana terbayang. Wajahnya yang baby face dan teduh, pengorbanan dan pengabdiannya yang tiada putusnya, suaranya yang lembut, tanganya yang halus bersimpuh memeluk kakiku, semuanya terbayang mengalirkan perasaan haru dan cinta.

Dalam keharuan terasa ada angina sejuk yang turun dari langit dan merasuk dalam jiwaku. Seketika itu pesona Cleopatra telah memudar berganti cinta Raihana yang datang di hati. Rasa sayang dan cinta pada Raihan tiba-tiba begitu kuat mengakar dalam hatiku. Cahaya Raihana terus berkilat-kilat dimata. Aku tiba-tiba begitu merindukannya. Segera kukejar waktu untuk membagi cintaku dengan Raihana. Kukebut kendaraanku. Kupacu kencang seiring dengan air mataku yang menetes sepanjang jalan. Begitu sampai di halaman rumah mertua, nyaris tangisku meledak. Kutahan dengan nafas panjang dan kuusap air mataku.

Melihat kedatanganku, ibu mertuaku memelukku dan menangis tersedu-sedu. Aku jadi heran dan ikut menangis. " Mana Raihana Bu?". Ibu mertua hanya menangis dan menangis. Aku terus bertanya apa sebenarnya yang telah terjadi. "
"Raihana… istrimu..istrimu dan anakmu yang dikandungnya".
" Ada apa dengan dia".
" Dia telah tiada".
" Ibu berkata apa!".
" Istrimu telah meninggal seminggu yang lalu. Dia terjatuh di kamar mandi. Kami membawanya ke rumah sakit. Dia dan bayinya tidak selamat. Sebelum meninggal, dia berpesan untuk memintakan maaf atas segala kekurangan dan kekhilafannya selama menyertaimu. Dia meminta maaf karena tidak bisa membuatmu bahagia. Dia meminta maaf telah dengan tidak sengaja membuatmu menderita. Dia minta kau meridhionya".

Hatiku bergetar hebat. " Ke…. kenapa ibu tidak memberi kabar padaku?". " Ketika Raihana dibawa ke rumah sakit, aku telah mengutus seseorang untuk menjemputmu di rumah kontrakan, tapi kamu tidak ada. Dihubungi ke kampus katanya kamu sedang mengikuti pelatihan. Kami tidak ingin mengganggumu. Apalagi Raihana berpesan agar kami tidak mengganggu ketenanganmu selama pelatihan. Dan ketika Raihana meninggal kami sangat sedih, Jadi maafkanlah kami".

Aku menangis tersedu-sedu. Hatiku pilu. Jiwaku remuk. Ketika aku merasakan cinta Raihana, dia telah tiada. Ketika aku ingin menebus dosaku, dia telah meninggalkanku. Ketika aku ingin memuliakannya dia telah tiada. Dia telah meninggalkan aku tanpa memberi kesempatan padaku untuk sekedar minta maaf dan tersenyum padanya. Tuhan telah menghukumku dengan penyesalan dan perasaan bersalah tiada terkira.

Ibu mertua mengajakku ke sebuah gundukan tanah yang masih baru dikuburan pinggir desa. Diatas gundukan itu ada dua buah batu nisan. Nama dan hari wafat Raihana tertulis disana. Aku tak kuat menahan rasa cinta, haru, rindu dan penyesalan yang luar biasa. Aku ingin Raihana hidup kembali.

Dunia tiba-tiba gelap semua…..

Sumber : " Pudarnya Pesona Cleopatra " oleh Habiburrahman El-Shirazy

KETIKA DERITA MENGABADIKAN CINTA

Kini tiba saatnya kita semua mendengarkan nasihat pernikahan untuk kedua mempelai yang akan disampaikan oleh yang terhormat Prof. Dr. Mamduh Hasan Al-Ganzouri . Beliau adalah Ketua Ikatan Dokter Kairo dan Direktur Rumah Sakit Qashrul Aini, seorang pakar Syaraf terkemuka di Timur Tengah, yang tak lain adalah juga dosen kedua mempelai. Kepada Professor dipersilahkan. …….

Suara pembawa acara walimatul urs itu menggema di seluruh ruangan resepsi pernikahan nan mewah di Hotel Hilton Ramses yang terletak di tepi sungai Nil, Kairo.

Seluruh hadirin menanti dengan penasaran, apa kiranya yang akan disampaikan pakar Syaraf jebolan London itu. Hati mereka menanti-nanti mungkin akan ada kejutan baru mengenai hubungan pernikahan dengan kesehatan syaraf dari professor yang murah senyum dan sering nongol di televisi itu.

Sejurus kemudian, seorang laki-laki separuh baya berambut putih melangkah menuju podium. Langkahnya tegap. Air muka di wajahnya memancarkan wibawa. Kepalanya yang sedikit botak, meyakinkan bahwa ia memang seorang ilmuan berbobot. Sorot matanya yang tajam dan kuat, mengisyaratkan pribadi yang tegas. Begitu sampai di podium, kamera video dan lampu sorot langsung shoot ke arahnya. Sesaat sebelum bicara, seperti biasa, ia sentuh gagang kacamatanya, lalu…

Bismillah, Alhamdulillah, Washalatu was Salamu’ala Rasulillah, amma ba’du. Sebelumnya saya mohon ma’af, saya tidak bisa memberi nasihat lazimnya para ulama, para mubhaligh dan para ustadz. Namun pada kesempatan kali ini perkenankan saya bercerita… Cerita yang hendak saya sampaikan kali ini bukan fiktif belaka dan bukan cerita biasa. Tetapi sebuah pengalaman hidup yang tak ternilai harganya, yang telah saya kecap dengan segenap jasad dan jiwa saya. Harapan saya, mempelai berdua dan hadirin sekalian yang dimuliakan Allah bisa mengambil hikmah dan pelajaran yang dikandungnya. Ambillah mutiaranya dan buanglah lumpurnya.

Saya berharap kisah nyata saya ini bisa melunakkan hati yang keras, melukiskan nuansa-nuansa cinta dalam kedamaian, serta menghadirkan kesetiaan pada segenap hati yang menangkapnya.

Tiga puluh tahun yang lalu …
Saya adalah seorang pemuda, hidup di tengah keluarga bangsawan menengah ke atas. Ayah saya seorang perwira tinggi, keturunan "Pasha" yang terhormat di negeri ini. Ibu saya tak kalah terhormatnya, seorang lady dari keluarga aristokrat terkemuka di Ma’adi, ia berpendidikan tinggi, ekonom jebolan Sorbonne yang memegang jabatan penting dan sangat dihormati kalangan elit politik di negeri ini.

Saya anak sulung, adik saya dua, lelaki dan perempuan. Kami hidup dalam suasana aristokrat dengan tatanan hidup tersendiri. Perjalanan hidup sepenuhnya diatur dengan undang-undang dan norma aristokrat. Keluarga besar kami hanya mengenal pergaulan dengan kalangan aristokrat atau kalangan high class yang sepadan !

Entah kenapa saya merasa tidak puas dengan cara hidup seperti ini. Saya merasa terkukung dan terbelenggu dengan strata sosial yang didewa-dewakan keluarga. Saya tidak merasakan benar hidup yang saya cari. Saya lebih merasa hidup justru saat bergaul dengan teman-teman dari kalangan bawah yang menghadapi hidup dengan penuh rintangan dan perjuangan. Hal ini ternyata membuat gusar keluarga saya, mereka menganggap saya ceroboh dan tidak bisa menjaga status sosial keluarga. Pergaulan saya dengan orang yang selalu basah keringat dalam mencari pengganjal perut dianggap memalukan keluarga. Namun saya tidak peduli.

Karena ayah memperoleh warisan yang sangat besar dari kakek, dan ibu mampu mengembangkannya dengan berlipat ganda, maka kami hidup mewah dengan selera tinggi. Jika musim panas tiba, kami biasa berlibur ke luar negri, ke Paris, Roma, Sydney atau kota besar dunia lainnya. Jika berlibur di dalam negeri ke Alexandria misalnya, maka pilihan keluarga kami adalah hotel San Stefano atau hotel mewah di Montaza yang berdekatan dengan istana Raja Faruq.

Begitu masuk Fakultas Kedokteran, saya dibelikan mobil mewah. Berkali-kali saya minta pada ayah untuk menggantikannya dengan mobil biasa saja, agar lebih enak bergaul dengan teman-teman dan para dosen. Tetapi beliau menolak mentah-mentah.

"Justru dengan mobil mewah itu kamu akan dihormati siapa saja" tegas ayah.

Terpaksa saya pakai mobil itu meskipun dalam hati saya membantah habis-habisan pendapat materialis ayah. Dan agar lebih nyaman di hati, saya parkir mobil itu agak jauh dari tempat kuliah.

Ketika itu saya jatuh cinta pada teman kuliah. Seorang gadis yang penuh pesona lahir batin. Saya tertarik dengan kesederhanaan, kesahajaan, dan kemuliaan ahlaknya. Dari keteduhan wajahnya saya menangkap dalam relung hatinya tersimpan kesetiaan dan kelembutan tiada tara. Kecantikan dan kecerdasannya sangat menakjubkan. Ia gadis yang beradab dan berprestasi, sama seperti saya.

Gayung pun bersambut. Dia ternyata juga mencintai saya. Saya merasa telah menemukan pasangan hidup yang tepat. Kami berjanji untuk menempatkan cinta ini dalam ikatan suci yang diridhai Allah, yaitu ikatan Pernikahan. Akhirnya kami berdua lulus dengan nilai tertinggi di fakultas. Maka datanglah saat untuk mewujudkan impian kami berdua menjadi kenyataan. Kami ingin memadu cinta penuh bahagia di jalan yang lurus.

Saya buka keinginan saya untuk melamar dan menikahi gadis pujaan hati pada keluarga. Saya ajak dia berkunjung ke rumah. Ayah, ibu, dan saudara-saudara saya semuanya takjub dengan kecantikan, kelembutan, dan kecerdasannya. Ibu saya memuji cita rasanya dalam memilih warna pakaian serta tutur bahasanya yang halus.

Usai kunjungan itu, ayah bertanya tentang pekerjaan ayahnya. Begitu saya beritahu, serta merta meledaklah badai kemarahan ayah dan membanting gelas yang ada di dekatnya. Bahkan beliau mengultimatum: Pernikahan ini tidak boleh terjadi selamanya!

Beliau menegaskan bahwa selama beliau masih hidup rencana pernikahan dengan gadis berakhlak mulia itu tidak boleh terjadi. Pembuluh otak saya nyaris pecah pada saat itu menahan remuk redam kepedihan batin yang tak terkira.

Hadirin semua, apakah anda tahu sebabnya? Kenapa ayah saya berlaku sedemikian sadis…?. Sebabnya, karena ayah calon istri saya itu tukang cukur….tukang cukur, ya… sekali lagi tukang cukur! Saya katakan dengan bangga. Karena, meski hanya tukang cukur, dia seorang lelaki sejati. Seorang pekerja keras yang telah menunaikan kewajibannya dengan baik kepada keluarganya. Dia telah mengukir satu prestasi yang tak banyak dilakukan para bangsawan "Pasha". Lewat tangannya ia lahirkan tiga dokter, seorang insinyur dan seorang letnan, meskipun dia sama sekali tidak mengecap bangku pendidikan.

Ibu, saudara dan semua keluarga berpihak kepada ayah. Saya berdiri sendiri, tidak ada yang membela. Pada saat yang sama adik saya membawa pacarnya yang telah hamil 2 bulan ke rumah. Minta direstui. Ayah ibu langsung merestui dan menyiapkan biaya pesta pernikahannya sebesar 500 ribu ponds. Saya protes kepada mereka, kenapa ada perlakuan tidak adil seperti ini? Kenapa saya yang ingin bercinta di jalan yang lurus tidak direstui, sedangkan adik saya yang jelas-jelas telah berzina, bergonta-ganti pacar dan akhirnya menghamili pacarnya yang entah yang ke berapa di luar akad nikah malah direstui dan diberi fasilitas maha besar?

Dengan enteng ayah menjawab. "Karena kamu memilih pasangan hidup dari strata yang salah dan akan menurunkan martabat keluarga, sedangkan pacar adik kamu yang hamil itu anak menteri, dia akan menaikkan martabat keluarga besar Al Ganzouri."

Hadirin semua, semakin perih luka dalam hati saya. Kalau dia bukan ayah saya, tentu sudah saya maki habis-habisan. Mungkin itulah tanda kiamat sudah dekat, yang ingin hidup bersih dengan menikah dihalangi, namun yang jelas berzina justru difasilitasi.

Dengan menyebut asma Allah, saya putuskan untuk membela cinta dan hidup saya. Saya ingin buktikan pada siapa saja, bahwa cara dan pasangan bercinta pilihan saya adalah benar. Saya tidak ingin apa-apa selain menikah dan hidup baik-baik sesuai dengan tuntunan suci yang saya yakini kebenarannya. Itu saja.

Saya bawa kaki ini melangkah ke rumah kasih dan saya temui ayahnya. Dengan penuh kejujuran saya jelaskan apa yang sebenarnya terjadi, dengan harapan beliau berlaku bijak merestui rencana saya. Namun, la haula wala quwwata illa billah, saya dikejutkan oleh sikap beliau setelah mengetahui penolakan keluarga saya. Beliaupun menolak mentah-mentah untuk mengawinkan putrinya dengan saya. Ternyata beliau menjawabnya dengan reaksi lebih keras, beliau tidak menganggapnya sebagai anak jika tetap nekad menikah dengan saya.

Kami berdua bingung, jiwa kami tersiksa. Keluarga saya menolak pernikahan ini terjadi karena alasan status sosial , sedangkan keluarga dia menolak karena alasan membela kehormatan.

Berhari-hari saya dan dia hidup berlinang air mata, beratap dan bertanya kenapa orang-orang itu tidak memiliki kesejukan cinta?

Setelah berpikir panjang, akhirnya saya putuskan untuk mengakhiri penderitaan ini. Suatu hari saya ajak gadis yang saya cintai itu ke kantor ma’dzun syari (petugas pencatat nikah) disertai 3 orang sahabat karibku. Kami berikan identitas kami dan kami minta ma’dzun untuk melaksanakan akad nikah kami secara syari’ah mengikuti mahzab imam Hanafi. Ketika Ma’dzun menuntun saya, "Mamduh, ucapkanlah kalimat ini: Saya terima nikah kamu sesuai dengan sunatullah wa rasulih dan dengan mahar yang kita sepakati bersama serta dengan memakai mahzab Imam Abu Hanifah."

Seketika itu bercucuranlah air mata saya, air mata dia dan air mata 3 sahabat saya yang tahu persis detail perjalanan menuju akad nikah itu. Kami keluar dari kantor itu resmi menjadi suami-isteri yang sah di mata Allah SWT dan manusia. Saya bisikkan ke istri saya agar menyiapkan kesabaran lebih, sebab rasanya penderitaan ini belum berakhir.

Seperti yang saya duga, penderitaan itu belum berakhir, akad nikah kami membuat murka keluarga. Prahara kehidupan menanti di depan mata. Begitu mencium pernikahan kami, saya diusir oleh ayah dari rumah. Mobil dan segala fasilitas yang ada disita. Saya pergi dari rumah tanpa membawa apa-apa. Kecuali tas kumal berisi beberapa potong pakaian dan uang sebanyak 4 pound saja! Itulah sisa uang yang saya miliki sehabis membayar ongkos akad nikah di kantor ma’dzun.

Begitu pula dengan istriku, ia pun diusir oleh keluarganya. Lebih tragis lagi ia hanya membawa tas kecil berisi pakaian dan uang sebanyak 2 pound, tak lebih!. Total kami hanya pegang uang 6 pound atau 2 dolar!!!

Ah, apa yang bisa kami lakukan dengan uang 6 pound? Kami berdua bertemu di jalan layaknya gelandangan. Saat itu adalah bulan Februari, tepat pada puncak musim dingin. Kami menggigil, rasa cemas, takut, sedih dan sengsara campur aduk menjadi satu. Hanya saja saat mata kami yang berkaca-kaca bertatapan penuh cinta dan jiwa menyatu dalam dekapan kasih sayang, rasa berdaya dan hidup menjalari sukma kami.

"Habibi, maafkan kanda yang membawamu ke jurang kesengsaraan seperti ini. Maafkan Kanda!" "Tidak… Kanda tidak salah, langkah yang kanda tempuh benar. Kita telah berpikir benar dan bercinta dengan benar. Merekalah yang tidak bisa menghargai kebenaran. Mereka masih diselimuti cara berpikir anak kecil. Suatu ketika mereka akan tahu bahwa kita benar dan tindakan mereka salah. Saya tidak menyesal dengan langkah yang kita tempuh ini. Percayalah, insya Allah, saya akan setia mendampingi kanda, selama kanda tetap setia membawa dinda ke jalan yang lurus. Kita akan buktikan kepada mereka bahwa kita bisa hidup dan jaya dengan keyakinan cinta kita. Suatu ketika saat kita gapai kejayaan itu kita ulurkan tangan kita dan kita berikan senyum kita pada mereka dan mereka akan menangis haru. Air mata mereka akan mengalir deras seperti derasnya air mata derita kita saat ini," jawab isteri saya dengan terisak dalam pelukan.

Kata-katanya memberikan sugesti luar biasa pada diri saya. Lahirlah rasa optimisme untuk hidup. Rasa takut dan cemas itu sirna seketika. Apalagi teringat bahwa satu bulan lagi kami akan diangkat menjadi dokter. Dan sebagai lulusan terbaik masing-masing dari kami akan menerima penghargaan dan uang sebanyak 40 pound.

Malam semakin melarut dan hawa dingin semakin menggigit. Kami duduk di emperan toko berdua sebagai gembel yang tidak punya apa-apa. Dalam kebekuan, otak kami terus berputar mencari jalan keluar. Tidak mungkin kami tidur di emperan toko itu. Jalan keluar pun datang juga. Dengan sisa uang 6 pound itu kami masih bisa meminjam sebuah toko selama 24 jam.

Saya berhasil menghubungi seorang teman yang memberi pinjaman sebanyak 50 pound. Ia bahkan mengantarkan kami mencarikan losmen ala kadarnya yang murah.

Saat kami berteduh dalam kamar sederhana, segera kami disadarkan kembali bahwa kami berada di lembah kehidupan yang susah, kami harus mengarunginya berdua dan tidak ada yang menolong kecuali cinta, kasih sayang dan perjuangan keras kami berdua serta rahmat Allah SWT.

Kami hidup dalam losmen itu beberapa hari, sampai teman kami berhasil menemukan rumah kontrakan sederhana di daerah kumuh Syubra Khaimah. Bagi kaum aristokrat, rumah kontrakan kami mungkin dipandang sepantasnya adalah untuk kandang binatang kesayangan mereka. Bahkan rumah binatang kesayangan mereka mungkin lebih bagus dari rumah kontrakan kami.

Namun bagi kami adalah hadiah dari langit. Apapun bentuk rumah itu, jika seorang gelandangan tanpa rumah menemukan tempat berteduh ia bagai mendapat hadiah agung dari langit. Kebetulan yang punya rumah sedang membutuhkan uang, sehingga dia menerima akad sewa tanpa uang jaminan dan uang administrasi lainnya. Jadi sewanya tak lebih dari 25 pound saja untuk 3 bulan.

Betapa bahagianya kami saat itu, segera kami pindah kesana. Lalu kami pergi membeli perkakas rumah untuk pertama kalinya. Tak lebih dari sebuah kasur kasar dari kapas, dua bantal, satu meja kayu kecil, dua kursi dan satu kompor gas sederhana sekali, kipas dan dua cangkir dari tanah, itu saja… tak lebih.

Dalam hidup bersahaja dan belum dikatakan layak itu, kami merasa tetap bahagia, karena kami selalu bersama. Adakah di dunia ini kebahagiaan melebihi pertemuan dua orang yang diikat kuatnya cinta? Hidup bahagia adalah hidup dengan gairah cinta. Dan kenapakah orang-orang di dunia merindukan surga di akhirat? Karena di surga Allah menjanjikan cinta.

Ah, saya jadi teringat perkataan Ibnu Qayyim, bahwa nikmatnya persetubuhan cinta yang dirasa sepasang suami-isteri di dunia adalah untuk memberikan gambaran setetes nikmat yang disediakan oleh Allah di surga. Jika percintaan suami-isteri itu nikmat, maka surga jauh lebih nikmat dari semua itu. Nikmat cinta di surga tidak bisa dibayangkan. Yang paling nikmat adalah cinta yang diberikan oleh Allah kepada penghuni surga , saat Allah memperlihatkan wajah-Nya. Dan tidak semua penghuni surga berhak menikmati indahnya wajah Allah SWT.

Untuk nikmat cinta itu, Allah menurunkan petunjuknya yaitu Al-Qur’an dan Sunnah Rasul. Yang konsisten mengikuti petunjuk Allah-lah yang berhak memperoleh segala cinta di surga. Melalui penghayatan cinta ini, kami menemukan jalan-jalan lurus mendekatkan diri kepada-Nya.

Istri saya jadi rajin membaca Al-Qur’an, lalu memakai jilbab, dan tiada putus shalat malam. Di awal malam ia menjelma menjadi Rabi’ah Adawiyah yang larut dalam samudra munajat kepada Tuhan. Pada waktu siang ia adalah dokter yang penuh pengabdian dan belas kasihan. Ia memang wanita yang berkarakter dan berkepribadian kuat, ia bertekad untuk hidup berdua tanpa bantuan siapapun, kecuali Allah SWT. Dia juga seorang wanita yang pandai mengatur keuangan. Uang sewa sebanyak 25 poud yang tersisa setelah membayar sewa rumah cukup untuk makan dan transportasi selama sebulan.

Tetanggga-tetangga kami yang sederhana sangat mencintai kami, dan kamipun mencintai mereka. Mereka merasa kasihan melihat kemelaratan dan derita hidup kami, padahal kami berdua adalah dokter. Sampai-sampai ada yang bilang tanpa disengaja,"Ah, kami kira para dokter itu pasti kaya semua, ternyata ada juga yang melarat sengsara seperti Mamduh dan isterinya." Akrabnya pergaulan kami dengan para tetangga banyak mengurangi nestapa kami. Beberapa kali tetangga kami menawarkan bantuan-bantuan kecil layaknya saudara sendiri. Ada yang menawarkan kepada isteri agar menitipkan saja cuciannya pada mesin cuci mereka karena kami memang dokter yang sibuk. Ada yang membelikan kebutuhan dokter. Ada yang membantu membersihkan rumah. Saya sangat terkesan dengan pertolongan- pertolongan mereka.

Kehangatan tetangga itu seolah-olah pengganti kasarnya perlakuan yang kami terima dari keluarga kami sendiri. Keluarga kami bahkan tidak terpanggil sama sekali untuk mencari dan mengunjungi kami. Yang lebih menyakitkan mereka tidak membiarkan kami hidup tenang.

Suatu malam, ketika kami sedang tidur pulas, tiba-tiba rumah kami digedor dan didobrak oleh 4 bajingan kiriman ayah saya. Mereka merusak segala perkakas yang ada. Meja kayu satu-satunya, mereka patah-patahkan, begitu juga dengan kursi. Kasur tempat kami tidur satu-satunya mereka robek-robek. Mereka mengancam dan memaki kami dengan kata-kata kasar. Lalu mereka keluar dengan ancaman, "Kalian tak akan hidup tenang, karena berani menentang Tuan Pasha."

Yang mereka maksudkan dengan Tuan "Pasha" adalah ayah saya yang kala itu pangkatnya naik menjadi jendral. Ke-empat bajingan itu pergi. Kami berdua berpelukan, menangis bareng berbagi nestapa dan membangun kekuatan. Lalu kami tata kembali rumah yang hancur. Kami kumpulkan lagi kapas-kapas yang berserakan, kami masukan lagi ke dalam kasur dan kami jahit kasur yang sobek-sobek tak karuan itu. Kami tata lagi buku-buku yang berantakan. Meja dan kursi yang rusak itu berusaha kami perbaiki. Lalu kami tertidur kecapaian dengan tangan erat bergenggaman, seolah eratnya genggaman inilah sumber rasa aman dan kebahagiaan yang meringankan intimidasi hidup ini.

Benar, firasat saya mengatakan ayah tidak akan membiarkan kami hidup tenang. Saya mendapat kabar dari seorang teman bahwa ayah telah merancang skenario keji untuk memenjarakan isteri saya dengan tuduhan wanita tuna susila. Semua orang juga tahu kuatnya intelijen militer di negeri ini. Mereka berhak melaksanakan apa saja dan undang-undang berada di telapak kaki mereka. Saya hanya bisa pasrah total kepada Allah mendengar hal itu.

Dan Masya Allah! Ayah telah merancang skenario itu dan tidak mengurungkan niat jahatnya itu, kecuali setelah seorang teman karibku berhasil memperdaya beliau dengan bersumpah akan berhasil membujuk saya agar menceraikan isteri saya. Dan meminta ayah untuk bersabar dan tidak menjalankan skenario itu , sebab kalau itu terjadi pasti pemberontakan saya akan menjadi lebih keras dan bisa berbuat lebih nekad.

Tugas temanku itu adalah mengunjungi ayahku setiap pekan sambil meminta beliau sabar, sampai berhasil meyakinkan saya untuk mencerai isteriku. Inilah skenario temanku itu untuk terus mengulur waktu, sampai ayah turun marahnya dan melupakan rencana kejamnya. Sementara saya bisa mempersiapkan segala sesuatu lebih matang.

Beberapa bulan setelah itu datanglah saat wajib militer. Selama satu tahun penuh saya menjalani wajib militer. Inilah masa yang saya takutkan, tidak ada pemasukan sama sekali yang saya terima kecuali 6 pound setiap bulan. Dan saya mesti berpisah dengan belahan jiwa yang sangat saya cintai. Nyaris selama 1 tahun saya tidak bisa tidur karena memikirkan keselamatan isteri tercinta.

Tetapi Allah tidak melupakan kami, Dialah yang menjaga keselamatan hamba-hamba- Nya yang beriman. Isteri saya hidup selamat bahkan dia mendapatkan kesempatan magang di sebuah klinik kesehatan dekat rumah kami. Jadi selama satu tahun ini, dia hidup berkecukupan dengan rahmat Allah SWT.

Selesai wajib militer, saya langsung menumpahkan segenap rasa rindu kepada kekasih hati. Saat itu adalah musim semi. Musim cinta dan keindahan. Malam itu saya tatap matanya yang indah, wajahnya yang putih bersih. Ia tersenyum manis. Saya reguk segala cintanya. Saya teringat puisi seorang penyair Palestina yang memimpikan hidup bahagia dengan pendamping setia & lepas dari belenggu derita:

Sambil menatap kaki langit
Kukatakan kepadanya
Di sana… di atas lautan pasir kita akan berbaring
Dan tidur nyenyak sampai subuh tiba
Bukan karna ketiadaan kata-kata
Tapi karena kupu-kupu kelelahan
Akan tidur di atas bibir kita
Besok, oh cintaku… besok
Kita akan bangun pagi sekali
Dengan para pelaut dan perahu layar mereka
Dan akan terbang bersama angin
Seperti burung-burung

Yah… saya pun memimpikan demikian. Ingin rasanya istirahat dari nestapa dan derita. Saya utarakan mimpi itu kepada istri tercinta. Namun dia ternyata punya pandangan lain. Dia malah bersih keras untuk masuk program Magister bersama!

"Gila… ide gila!!!" pikirku saat itu. Bagaimana tidak…ini adalah saat paling tepat untuk pergi meninggalkan Mesir dan mencari pekerjaan sebagai dokter di negara Teluk, demi menjauhi permusuhan keluarga yang tidak berperasaan. Tetapi istri saya tetap bersikukuh untuk meraih gelar Magister dan menjawab logika yang saya tolak:

"Kita berdua paling berprestasi dalam angkatan kita dan mendapat tawaran dari Fakultas sehingga akan mendapatkan keringanan biaya, kita harus sabar sebentar menahan derita untuk meraih keabadian cinta dalam kebahagiaan. Kita sudah kepalang basah menderita, kenapa tidak sekalian kita rengguk sum-sum penderitaan ini. Kita sempurnakan prestasi akademis kita, dan kita wujudkan mimpi indah kita."

Ia begitu tegas. Matanya yang indah tidak membiaskan keraguan atau ketakutan sama sekali. Berhadapan dengan tekad baja istriku, hatiku pun luluh. Kupenuhi ajakannya dengan perasaan takjub akan kesabaran dan kekuatan jiwanya.

Jadilah kami berdua masuk Program Magister. Dan mulailah kami memasuki hidup baru yang lebih menderita. Pemasukan pas-pasan, sementara kebutuhan kuliah luar biasa banyaknya, dana untuk praktek, buku, dll. Nyaris kami hidup laksana kaum Sufi, makan hanya dengan roti dan air. Hari-hari yang kami lalui lebih berat dari hari-hari awal pernikahan kami. Malam hari kami lalui bersama dengan perut kosong, teman setia kami adalah air keran.

Masih terekam dalam memori saya, bagaimana kami belajar bersama dalam suatu malam sampai didera rasa lapar yang tak terperikan, kami obati dengan air. Yang terjadi malah kami muntah-muntah. Terpaksa uang untuk beli buku kami ambil untuk pengganjal perut.

Siang hari, jangan tanya… kami terpaksa puasa. Dari keterpaksaan itu, terjelmalah kebiasaan dan keikhlasan.

Meski demikian melaratnya, kami merasa bahagia. Kami tidak pernah menyesal atau mengeluh sedikitpun. Tidak pernah saya melihat istri saya mengeluh, menagis dan sedih ataupun marah karena suatu sebab. Kalaupun dia menangis, itu bukan karena menyesali nasibnya, tetapi dia malah lebih kasihan kepada saya. Dia kasihan melihat keadaan saya yang asalnya terbiasa hidup mewah, tiba-tiba harus hidup sengsara layaknya gelandangan.

Sebaliknya, sayapun merasa kasihan melihat keadaannya, dia yang asalnya hidup nyaman dengan keluarganya, harus hidup menderita di rumah kontrakan yang kumuh dan makan ala kadarnya.

Timbal balik perasaan ini ternya menciptakan suasana mawaddah yang luar biasa kuatnya dalam diri kami. Saya tidak bisa lagi melukiskan rasa sayang, hormat, dan cinta yang mendalam padanya.

Setiap kali saya angkat kepala dari buku, yang tampak di depan saya adalah wajah istri saya yang lagi serius belajar. Kutatap wajahnya dalam-dalam. Saya kagum pada bidadari saya ini. Merasa diperhatikan, dia akan mengangkat pandangannya dari buku dan menatap saya penuh cinta dengan senyumnya yang khas. Jika sudah demikian, penderitaan terlupakan semua. Rasanya kamilah orang yang paling berbahagia di dunia ini.

"Allah menyertai orang-orang yang sabar, sayang…" bisiknya mesra sambil tersenyum.

Lalu kami teruskan belajar dengan semangat membara.

Allah Maha Penyayang, usaha kami tidak sia-sia. Kami berdua meraih gelar Magister dengan waktu tercepat di Mesir. Hanya 2 tahun saja! Namun, kami belum keluar dari derita. Setelah meraih gelar Magister pun kami masih hidup susah, tidur di atas kasur tipis dan tidak ada istilah makan enak dalam hidup kami.

Sampai akhirnya rahmat Allah datang juga. Setelah usaha keras, kami berhasil meneken kontrak kerja di sebuah rumah sakit di Kuwait. Dan untuk pertama kalinya, setelah 5 tahun berselimut derita dan duka, kami mengenal hidup layak dan tenang. Kami hidup di rumah yang mewah, merasakan kembali tidur di kasur empuk dan kembali mengenal masakan lezat.

Dua tahun setelah itu, kami dapat membeli villa berlantai dua di Heliopolis, Kairo. Sebenarnya, saya rindu untuk kembali ke Mesir setelah memiliki rumah yang layak. Tetapi istriku memang ‘edan’. Ia kembali mengeluarkan ide gila, yaitu ide untuk melanjutkan program Doktor Spesialis di London, juga dengan logika yang sulit saya tolak:

"Kita dokter yang berprestasi. Hari-hari penuh derita telah kita lalui, dan kita kini memiliki uang yang cukup untuk mengambil gelar Doktor di London. Setelah bertahun-tahun hidup di lorong kumuh, tak ada salahnya kita raih sekalian jenjang akademis tertinggi sambil merasakan hidup di negara maju. Apalagi pihak rumah sakit telah menyediakan dana tambahan."

Kucium kening istriku, dan bismillah… kami berangkat ke London. Singkatnya, dengan rahmat Allah, kami berdua berhasil menggondol gelar Doktor dari London. Saya spesialis syaraf dan istri saya spesialis jantung.

Setelah memperoleh gelar doktor spesialis, kami meneken kontrak kerja baru di Kuwait dengan gaji luar biasa besarnya. Bahkan saya diangkat sebagai direktur rumah sakit, dan istri saya sebagai wakilnya! Kami juga mengajar di Universitas.

Kami pun dikaruniai seorang putri yang cantik dan cerdas. Saya namai dia dengan nama istri terkasih, belahan jiwa yang menemaniku dalam suka dan duka, yang tiada henti mengilhamkan kebajikan.

Lima tahun setelah itu, kami pindah kembali ke Kairo setelah sebelumnya menunaikan ibadah haji di Tanah Haram. Kami kembali laksana raja dan permaisurinya yang pulang dari lawatan keliling dunia. Kini kami hidup bahagia, penuh cinta dan kedamaian setelah lebih dari 9 tahun hidup menderita, melarat dan sengsara.

Mengenang masa lalu, maka bertambahlah rasa syukur kami kepada Allah SWT dan bertambahlan rasa cinta kami.

Ini kisah nyata yang saya sampaikan sebagai nasehat hidup. Jika hadirin sekalian ingin tahu istri saleha yang saya cintai dan mencurahkan cintanya dengan tulus, tanpa pernah surut sejak pertemuan pertama sampai saat ini, di kala suka dan duka, maka lihatlah wanita berjilbab biru yang menunduk di barisan depan kaum ibu, tepat di sebelah kiri artis berjilbab Huda Sulthan. Dialah istri saya tercinta yang mengajarkan bahwa penderitaan bisa mengekalkan cinta. Dialah Prof Dr Shiddiqa binti Abdul Aziz…"

Tepuk tangan bergemuruh mengiringi gerak kamera video menyorot sosok perempuan separoh baya yang tampak anggun dengan jilbab biru. Perempuan itu tengah mengusap kucuran air matanya. Kamera juga merekam mata Huda Sulthan yang berkaca-kaca, lelehan air mata haru kedua mempelai, dan segenap hadirin yang menghayati cerita ini dengan seksama.

Sumber : "Di atas Sajadah Cinta" oleh Habiburrahman El-Shirazy

Bismillahi Ar-Rahman Ar-Rahim…

Dengan nama Allah ku mulakan nukilan di sini. Sholawat dan salam atas junjungan Nabi Besar Muhammad shollollahu ‘alaihi wasallam, keluarga dan para sahabat baginda rodhiallahu ‘anhum ajmaien……..

Manusia seringkali terlupa akan tujuan mereka untuk berapa pada sesuatu posisi. Kadangkala aku tertanya-tanya atas tujuan apakah aku menyertai Laman Friendster dan laman-laman lain di internet ? Atas dasar apakah aku datang sebegitu jauh daripada kampung halamanku ? Untuk apakah aku berada di bumi orang ini ?

Jawapan yang tidak akan ku temui jikalau aku hanya melihat kepada materi yang akan aku dapat, keseronokan yang dicari setiap manusia alpa, atau kasih dan cinta kepada manusia yang membelakangi Allah, Rasul dan Jihad.

Ya……sudah begitu lama tidak aku muhasabah diriku untuk melihat kembali tujuan asal kehidupanku dan hala tujuku. Mulanya, aku hanyalah seperti mana-mana manusia lain yang ku kira tidak begitu memahami konsep hidup manusia sendiri (fahamkah diriku ini?…semoga Allah menambahkan kefahaman kepada ku dalam hal agama)….walaupun bergabung dalam persatuan yang ku kira dapat memberikan bimbingan kepada musafir penuju destinasi ini, namun aku perhatikan bahawa tiada sebarang perubahan ruhani yang bisa aku jadikan kekuatan dalam menjalani kehidupan ku di muka dunia ini…..

Namun kehadiran seseorang telah mengubah hidup ku. Jalan yang ku rasakan begitu gelap, sukar dan dipenuhi mehnah juga tribulasi yang mampu menggugat dan meruntuhkan kesabaran ku kini ku rasakan semakin ringan. Yaa…tidak mungkin jalan yang akan dilalui oleh insan ini akan senang sentiasa dan dapat memusnahkan kesusahan yang mendatang. Namun kehadirannya membawa sesuatu yang ku cari selama ini (Segala puji bagi Allah) meringankan perjalananku dan memberikan sinar dan ppedoman yang jelas bagi diriku.

Bermula dengan perancangan untuk mencari, akhirnya Allah subhanahuwataala memberikan peluang kepada kami (ketika itu aku berdua bersama teman ku) memberikan jalan kepada kami untuk menerima petunjuk dan peluang yang tidak di perolehi oleh orang lain…….(bersambung)

Pencari Hidayah

Oleh Hafizah Nur

Cuaca panas sekali siang itu, namun kesejukan ruangan berpendingin hawa di rumah salah seorang teman saya membuat kami nyaman mengikuti pengajian bulanan yang diadakan muslimah Indonesia di Kampung Melayu ini. Kampung Melayu, begitulah sebutan untuk komuniti Indonesia yang tinggal saling berdekatan di Jepun. Ada beberapa Kampung Melayu di sekitar Tokyo. Tempat tinggal saya saat itu di Ayase, di sebelah Tenggara kota Tokyo. Komunitinya terdiri dari beberapa keluarga Indonesia, yang rata-rata bersuamikan pelajar, pekerja atau menikah dengan orang Jepun. Pengajian bulanan kali ini diisi oleh seorang muallaf Jepun. Sebut saja Halimah san, seorang muslimah yang bercerita tentang bagaimana perjalanan hidupnya, sampai ia memutuskan untuk menjadi muslim. Berawal dari kegersangannya dalam menjalani kehidupan di Amerika, yang hanya dilaluinya dengan rutinnya belajar dan belajar. Dia ingin mengenal Tuhan, tetapi tak tahu bagai mana caranya. Dia mencuba mengatasinya dengan berbagai cara. Membaca buku tentang perbagai agama di dunia, sampai melakukan meditasi, satu cara untuk mencapai ketenangan. Tapi tak ada satu pun yang memuaskan hatinya. Sampai suatu ketika, ia berkunjung ke sebuah restoran muslim Afrika. Terpesona dengan keramahan yang ditunjukkan oleh pemiliknya, meskipun terhadap orang yang berbeda ras dan agama dengannya. Ketertarikannya semakin dalam ketika ia datang ke Malaysia dan melihat muslim di sana melaksanakan Islam dengan baik. Kemudian ia kembali ke Tokyo dan memutuskan untuk menjadi muslim. Saat ini Halimah san sudah menikah dengan Muslim Pakistan dan memiliki tiga orang anak. Berjilbab rapi dan terus menerus bersemangat meningkatkan pengetahuannya tentang Islam. Hidayah. Tidak ada yang kuasa menolaknya ketika ia menghampiri. Bahkan kepada orang sekuat Umar ra., yang dianggap jaguh kaum musyrikin Makkah di zaman nabi saw. Umar ra. masuk Islam justeru ketika berniat untuk membunuh Nabi. Hidayah itu hadir secepat angin. Mengalihkan kebenciannya menjadi cinta hanya karena mendengar lantunan awal surat Thoha dari Al-Qur’an. Saya jadi teringat juga dengan seorang muslimah Jepun, sebut saja Megumi san. Persahabatannya dengan orang Indonesia membuatnya tertarik untuk mempelajari Islam lebih jauh. Saat kembali ke Tokyo, Megumi san aktif mengikuti kajian Islam yang diselenggarakan oleh Masjid Otsuka. Meskipun belum muslim, interaksinya dengan muslimah dari pelbagai negara di Otsuka menariknya lebih dalam ke lingkaran kehidupan Islami. Ia mencoba menerapkan apa yang ia tahu tentang Islam, seperti mencoba melakukan sholat. Terharu dengan usahanya untuk bangun di waktu subuh, ketika dingin begitu menggigit. Hal yang sangat berat, bahkan untuk orang Islam sendiri. Sampai di suatu hari di bulan Romadhan. Ia mencoba ikut serta merasakan lapar dan hausnya berpuasa. Ketika ifthar (berbuka puasa) beramai-ramai di Masjid Otsuka, ada rasa lain yang menyelinap ke dalam dirinya. Semacam ketenangan yang lain. Saat itu saya sempat berbincang dengannya dan mengharap dia mendapatkan hidayah dari Allah, kembali ke dalam pangkuan Islam. Tak disangka ketika ia hendak pulang, dan sudah sampai di stesen Otsuka, Seperti ada suara yang memerintahkannya untuk kembali dan mengikrarkan syahadat saat itu juga. Akhirnya ia pun berbalik dan mengikuti suara hatinya. Allahu Akbar. Ternyata hidayah itu datang padanya di hari itu. Saya juga banyak bertemu dengan muslimah Indonesia yang justeru mendapat hidayah di sini. Mereka memang muslim sejak lahir. Tetapi di negerinya sendiri tidak ada sedikitpun keinginan untuk menggali Islam lebih dalam atau menjadi muslim yang lebih baik. Banyak juga di antara mereka yang tenggelam dalam kehidupan maksiat. Bahkan bertemu dengan suami, yang berkebangsaan Jepun, di saat bekerja di dunia malam. Tapi ternyata Allah masih sayang kepada mereka. Di tengah gemerlap kota Tokyo. Jauh dari suara azan. Jauh dari tempat-tempat menggali ilmu agama, justeru di sinilah mereka mencari hidayah. Mereka bosan dengan kemaksiatan, dan ingin mencoba ketenangan yang baru. Yang lebih abadi. Saya mengenal baik salah satunya. Saat ini ia sudah berjilbab dan mencoba membangun keluarga Islami dengan suaminya yang nihonjin. Sebagaimana paman Rosulullah, Abu Tholib, yang sangat dekat dengan Nabi. Ia mengorbankan dirinya untuk membantu Dakwah Nabi, tetapi justeru tak menerima Islam sampai akhir hayatnya. Sebaliknya, banyak juga orang yang mencari hidayah justeru di tengah-tengah merajalelanya kemaksiatan. Seperti Cat Steven atau Yusuf Islam, yang memilih menjadi muslim di puncak kerjayanya sebagai seorang bintang. Ia rela meninggalkan semua kesenangan yang sudah berada dalam genggamannya demi Islam. Yah, itulah hidayah. Hanya Allah yang tahu, siapa yang berhak menerimanya. Saya hanya berharap, semoga saya dan orang-orang yang saya cintai termasuk orang yang bersemangat menggapai hidayah itu. Dan bisa mendapatkan rahmat-Nya. Hidup dalam naungan hidayah-Nya. Semoga.

**Nihonjin: orang Jepun…

Marhaban ya. Romadhan, marhaban ya syahrusshiyaam..

Hifizahn at yahoo dot com (FLP-Jepun)

TIGA AKAR KESALAHAN

Akar dari kesalahan itu ada tiga.

Pertama, kesombongan. Itulah yang menyebabkan iblis mengalamai apa yang ia alami.

Kedua, keserakahan, dan itulah yang mengeluarkan Adam dari Surga.

Ketiga, kedengkian, dan itulah yang menjadikan salah satu anak Adam membunuh saudaranya. Maka barangsiapa berlindung dari keburukan tiga akar kesalahan itu, sesungguhnya ia telah melindungi dirinya dengan sebenar-benarnya. Karena kekafiran itu bersumber dari kesombongan. Karena kemaksiatan itu sumbernya keserakahan. Sedang kezhaliman itu sumbernya kedengkian.

(Ibnu Qoyyim)